Indonesian Service: 17 May 2009

E-mail Print PDF

Topik yang dibawakan oleh Hendri Tan mengenai "past life" cukup menarik perhatian dari peserta yang hadir dan juga banyak muncul topik diskusi yang menarik :) Hendri memulai presentasinya dengan memaparkan essay singkat mengenai penemuan2 dan pemaparan mengenai keberadaan past life dari berbagai sumber yang ditemukan di internet. Kebanyakan sumbernya berasal dari penelitian di barat, yang berawal dari case study orang2 yang memiliki ingatan mengenai kejadian di kehidupan yang lalunya, sampai penelitian lewat hipnosis di mana seseorang dibawa ke keadaan bawah sadarnya dan ingatan masa lalunya digali.

Dari sumber2 penelitian di barat, fakta mengenai past life juga memunculkan model untuk menjelaskan proses rebirth/reinkarnasi, yang secara sederhana digambarkan sebagai adanya "soul" (jiwa/essence of being) yang keluar dari raga yang sudah mati, dan kemudian soul tersebut memilih kelahiran berikutnya di rahim orang yang memiliki koneksi dekat dengannya. Dari situ juga dimunculkan suatu indikasi bahwa orang2 yang dekat dengan kita di satu kehidupan, juga dekat dengan kita di kehidupan sebelumnya. Di sini, Hendri mengaitkan fenomena ini dengan hukum karma dalam Buddhism.

Satu hal yang perlu diklarifikasi di sini adalah, model tidaklah sama dengan realita :) contohnya, orang jaman dahulu memodelkan bumi sebagai bidang datar, karena itulah ide termuktahir yang mereka punya untuk memodelkan bumi. Tetapi dengan berkembangnya jaman dan ilmu pengetahuan, diketahui bahwa model "bidang datar" itu "terbatas" dan realita yang sebenarnya adalah bumi lebih menyerupai bola. Sama dengan teori mengenai mekanisme kelahiran kembali dengan menggunakan "soul" atau essence of being, hal ini merupakan model saja yang masih ada keterbatasan untuk menggambarkan realita. Dalam Buddhism, dikenal konsep "Anatta" bahwa pada hakekatnya tidak ada inti/essence yang kekal dari segala sesuatu, karena segala sesuatu yang berkondisi pastilah mengalami perubahan (anicca). Jadi, apa yang dianggap sebagai "soul" pun tidak kekal dan terus berubah :)

Dalam presentasinya, Hendri juga menyajikan 2 video yang menggambarkan proses hipnoterapi dari 2 aktor di Taiwan, di mana setelah di-hipnosis mereka dapat me-recall masa lalunya, ingat dengan gambang kejadian yang dialaminya, merasakan emosi yang muncul saat itu. Saat di-hipnosis dan menonton satu segment episode di kehidupan lalu, mirip seperti memilih segment video clip dari database, dan saat mereka menonton segment itu, otomatis informasi2 yang berkaitan seperti tahun berapa, di mana kejadiaannya, dan siapa orang yang dilihat pada saat itu menjadi jelas juga di benak orang yang di-hipnosis. Bahkan salah seorang aktor tersebut dapat mengucapkan bahasa orang Indian yang sangat asing secara fasih, tetapi setelah keluar dari hipnosis tidak bisa lagi.

Peran terapis dalam membimbing pasien yang di-hipnosis pun sangat penting, terutama untuk membantu mereka meredakan emosi2 negatif yang muncul saat mengalami kembali kejadian di masa lalu dan mengembangkan sikap mental positif untuk mengatasinya. Bahkan hipnoterapis sebetulnya lebih bertujuan untuk healing, yaitu mengatasi persoalan yang seseorang alami di mana akar persoalannya ada di masa lalu. Misalnya seseorang yang punya trauma ketinggian yang sangat menganggu, ternyata di kehidupan sebelumnya meninggal karena terjatuh dari ketinggian. Saat akar masalahnya ditemukan, peran terapis sangat penting untuk membantu pasien tersebut mengatasi emosinya.

Hendri juga memaparkan selain ada orang yang bisa melihat masa lalunya, ada juga orang yang bisa melihat masa lalu orang lain. Kalau kita melihat 3 jenis pengetahuan yang dimiliki Sang Buddha saat mencapai penerangan sempurna: 1) pengetahuan tentang masa lalu beliau selama 91 maha kappa (umur semesta), 2) pengetahuan tentang hukum karma, dan 3) pengetahuan tentang pemurnian batin dari segala kekotoran batin. Pengetahuan jenis pertama membuat beliau dapat melihat masa lalunya di banyak kelahiran. Pengetahuan yang kedua membuat beliau dapat melihat masa lalu orang lain, dan jauh lebih dalam lagi, mengetahui seluk beluk kaitan karma orang tersebut yang membuatnya terlahir sebagai apa. Dua pengetahuan ini dapat juga dimiliki oleh orang biasa, walaupun tidak sesempurna Sang Buddha. Dan jalan untuk mengembangkan kedua pengetahuan ini adalah lewat meditasi, walaupun tingkat pengembangan tiap individu dapat berbeda.

Di sesi sharing, Sis Merry ikut share mengenai pengalaman pribadi beliau waktu di-hipnosis dan beliau dapat melihat satu segment di masa lalunya sebagai seorang putri di suatu kerajaan. Sangat jelasnya memori yang beliau ingat, juga mengkonfirmasi apa yang dipaparkan oleh Hendri dari kasus2 yang ada. Satu point diskusi yang penting untuk dicermati adalah tidak semua memori masa lalu itu benar. Ada kalanya apa yang kita lihat itu hanyalah ilusi dan imajinasi. Seperti halnya dalam hipnosis, ada kalanya seseorang dapat merasakan imaginasinya sebagai realita, padahal bukan. Dalam hal ini, Ajahn Brahm pernah menegaskan bahwa diperlukan batin yang tenang, stabil, dan jernih untuk dapat mengetahui apakah yang kita lihat hanya ilusi atau realita.

Salah satu point diskusi yang lain adalah "apakah kelahiran bisa mundur?" dalam arti, seseorang dari masa depan terlahir kembali di masa lalu, sebagaimana banyak digambarkan dalam cerita fiksi ilmiah mengenai mesin waktu. Walaupun secara ilmu pengetahuan kita tidak bisa menjawab secara pasti, dan ada pikiran bahwa tidak tertutup kemungkinan bahwa itu bisa terjadi, dalam Buddhisme sebetulnya cukup jelas bahwa kelahiran mundur tidaklah mungkin. Kamma-vipaka (perbuatan dan konsekuensinya) mengikuti alur waktu yang maju "perbuatan di masa lalu menjadi sebab terjadinya kondisi di saat ini, dan perbuatan di saat ini menjadi sebab untuk kondisi di masa depan", oleh karena itu kelahiran pun (yang disebabkan oleh kamma-bhava) akan mengikuti alur maju.

Satu hal lagi yang dipaparkan oleh Hendri adalah kasus anomali di mana dalam essay disebutkan "1 soul dapat terlahir menjadi 2 makhluk" walaupun kasus ini sangat jarang sekali, yang disebut dengan twin soul. Ilmu pengetahuan yang masih cukup baru dalam mempelajari hal ini belum sepenuhnya bisa menjelaskan fenomena ini. Tetapi dalam Buddhism, sudah jelas bahwa hal ini tidak mungkin terjadi. Seperti diuraikan dalam 12 mata rantai yang saling bergantungan, suatu kesadaran (vinnana) akan menjelma menjadi kelahiran satu makhluk. Tidaklah mungkin 1 kesadaran dapat menjelma menjadi 2 makhluk. Oleh karena itu, fenomena anomali ini bisa dianggap sebagai masalah yang belum terpecahkan penjelasannya dalam ilmu pengetahuan, sebagai proses di mana nantinya akan ada jawaban yang konsisten dengan apa yang diuraikan dalam Buddhisme. sama seperti keterbatasan ilmu pengetahuan untuk mengetahui adanya tatasurya lain 100 tahun yang lalu, tetapi seiring majunya ilmu pengetahuan akhirnya sampai pada kesimpulan yang sama dengan Buddhisme, yaitu banyaknya tata surya.

Sebelum diskusi ditutup, Joni memaparkan satu opini yang bijak dan perlu kita renungkan bersama. Bahwa memang benar dengan adanya kemajuan ilmu psikologi seperti hipnoterapi, yang membuktian keberadaan masa lalu, menjadi bukti yang memperkuat keyakinan kita terhadap Buddha Dhamma. Tetapi, sisi lain dari euphoria terhadap kemajuan ini juga membuat dampak yang kurang positif misalnya komersialisasi dari terapi jenis ini dan penggunaannya untuk hal2 yang belum tentu bermanfaat. Sebagaimana yang Sang Buddha ajarkan mengenai bagaimana kita harus "hidup di masa kini", kita harus bijaksana dalam menyikapi permasalahan dalam hidup. Tidak semua masalah perlu dicari akarnya di masa lalu, dan tidak juga penting untuk menjadikan kemampuan mengenai masa lalu kita sebagai tujuan utama kita dalam praktik spiritual. Semua itu akan dicapai bila saatnya tiba, dan kebijaksanaan untuk menyikapinya menjadi hal yang lebih esensial dalam menjalankan hidup.

 

Add your comment

Your name:
Subject:
Comment: