Indonesian Service: 15 March 2009

E-mail Print PDF

Sharing Dhamma pada hari ini dibawakan oleh Luis dengan topik "do we need to become a monk to reach our spiritual goal?" Pembahasan diawali dengan klarifikasi apa spiritual goal dari kita semua, terutama sebagai seorang Buddhis. Sharing dari Joni mengindikasikan bahwa walaupun umat Buddha sepakat bahwa Nibbana ada tujuan spiritual tertinggi, tetapi kebanyakan dari kita tidak menempatkan Nibbana sebagai tujuan spiritual untuk dicapai dalam kehidupan ini. Banyak dari kita yang "yakin" bahwa spiritual liberation tidak dapat dicapai dalam kehidupan ini, dan usaha terbaik yang dapat kita lakukan adalah mengumpulkan modal agar kita dapat mencapainya di kehidupan mendatang.

Mengapa seseorang tergerak untuk menempuh jalur sebagai Bhikkhu yang notabene meninggalkan keduniawian? Luis memberikan 2 aspek yang memotivasi seseorang untuk meninggalkan keduniawian yang diambil dari jalan hidup Sang Bodhisatta (calon Buddha) dalam kehidupan terakhirnya sebagai Pangeran Siddharta, maupun di beberapa kehidupan yang lalu. Kedua aspek itu adalah Nibbida dan Samvega. Nibbida adalah perasaan "jijik/muak" yang sangat kuat akan kehidupan duniawi yang membawa pada suffering, dan samvega adalah sense of urgency untuk mencapai Pencerahan secepatnya (dalam kehidupan ini juga). Kedua aspek ini adalah hasil dari kedewasaan spiritual yang dibangun oleh praktik spiritual yang kontinu dan progresif. Karena 2 aspek inilah, Sang Bodhisatta, dan juga murid2 beliau yang bergabung dalam Sangha, meninggalkan keduniawian.

Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana dengan murid2 Sang Buddha yang tidak menempuh jalur ke-Bhikkhu-an (baca: lay people atau perumah tangga), apakah mereka tidak dapat merasakan nibbida, samvega, ataupun mencapai Pencerahan (paling tidak sebagai Sotapana) dalam kehidupan sekarang? Luis memaparkan bahwa dalam kapasitas tertentu, kita sebagai umat awam pun dapat merasakan nibbida dan samvega walaupun intensitasnya tidak sekuat para praktisi yang menempuh jalur ke-Bhikkhu-an. Misalnya, nibbida terhadap minuman keras yang kita tau dapat membawa suffering. Dan pada jaman Sang Buddha, banyak murid2 beliau yang perumahtangga yang berhasil mencapai tingkat kesucian sebagai Sotapanna, Sakadagami, Anagami, dan bahkan ada yang mencapai Arahat saat meninggal dunia.

Lebih jauh lagi, Sang Buddha tidak pernah menyebutkan Bhikkhu (komunitas Sangha) sebagai satu2nya pilar Dhamma. Sang Buddha selalu menyebutkan 4 pilar Dhamma yang membuat Sasana terus eksis dan berkembang, yaitu Bhikkhu, Bhikkhuni, Upasaka (umat awam laki2) dan Upasika (umat awam perempuan). Keseimbangan (sinergi) dari 4 pilar Dhamma ini sangat penting, karena tanpa adanya perumah tangga yang menyediakan kebutuhan sehari2 para Bhikkhu dan Bhikkhuni (pakaian, makanan, tempat tinggal, obat2an), praktik para Bhikkhu dan Bhikkhuni akan banyak terganggu dan bahkan menjadi tidak mungkin. Demikian juga tanpa adanya para Bhikkhu dan Bhikkhu yang mengajarkan Dhamma kepada para Upasaka dan Upasika, kehidupan spiritual umat biasa menjadi pincang dan menjadi tidak kondusif untuk pencapaian tujuan spiritual. Luis mengilustrasikan keseimbangan yang pernah terjadi pasca jaman Sang Buddha, ketika para Arahat menjadi makin sedikit dan para Bhikkhu tidak lagi mengajarkan Dhamma. Di situ terjadi ketimpangan yang akhirnya memacu semangat para umat awam untuk melahirkan semangat "Mahayana", yaitu menunda penempuhan jalan Ke-Arahat-an (sebagai Bhikkhu), dan memilih untuk membantu satu sama lain dalam pemenuhan kebutuhan spiritualnya (mencapai pencerahan bersama2).

Mengingat pencapaian para umat perumah tangga pada jaman Sang Buddha, ini menjadi suatu fakta bagi kita yang tidak mau menempuh jalur ke-Bhikkhu-an, untuk dapat mencapai tingkat kesucian dalam kehidupan sekarang juga. Bahkan, pencapaian tingkat kesucian Sottapana merupakan syarat minimum yang dapat menggaransi kita untuk tidak terlahir lagi di alam rendah dan dapat melanjutkan latihan kita di kehidupan mendatang. Kabar baiknya, Sang Buddha sendiri telah mengajarkan dan menggaransi dalam Okkantisamyutta (Samyutta Nikaya 25) bahwa apabila kita mempraktikkan persepsi akan ketidakkekalan (aniccasanna) dalam tiap formasi di sekeliling kita, kita akan mencapai Sotapanna dalam kehidupan sekarang juga.

Kualifikasi seorang Sotapanna adalah telah mematahkan 3 belenggu: pandangan salah tentang Aku (sakayaditthi), keragu2an akan ajaran Sang Buddha (Viccikiccha), dan keterikatan akan aturan2 dan ritual untuk mencapai spiritual liberation (silabata paramasa). Dengan merenungkan ketidakkekalan dalam setiap fenomena dalam hidup kita, kita dapat menembus kesalahpandangan akan Aku (sakayaditthi), karena sesuatu yang tidak kekal (anicca) pastilah dapat menimbulkan penderitaan (dukkha), dan sesuatu yang bersifat penderitaan tidaklah pantas untuk kita pandang sebagai "diriku" atau "milikku" (anatta). Dan dengan penembusan ini, keragu2an akan ajaran Sang Buddha pun dapat kita patahkan, dan keterikatan akan ritual dan aturan2 pun dapat dilepas. Dengan kata lain, tanpa "harus memegang sila" pun, tindak tanduk seorang Sotapanna sudah sesuai dengan sila.

Bagi yang tertarik untuk membaca Okkantisamyutta, sutta nya dapat didownload di link berikut http://earlypalisutta.googlepages.com/S25.1_Anicca_Cakkhu_S_sd16.7.pdf

Sutta di link ini diterjemahkan oleh Piya Tan dan beliau memberikan introduction yang cukup panjang terhadap sutta ini :) suttanya sendiri sangat pendek, cukup dibaca di 2 halaman terakhir, dan bagi yang tertarik untuk membaca penjelasan mengenai sutta ini, dapat dibaca introductionnya yang panjang dan komprehensif.

Semoga kita semua mendapatkan manfaat dari sharing Dhamma pada hari ini dan dapat mencapai tujuan spiritual kita semua. Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Sadhu, sadhu, sadhu.

 

Add your comment

Your name:
Subject:
Comment: