Hi all,
Berikut summary Indonesian Service bulan Agustus yang kita laksanakan hari minggu kemarin, 16 August 2009. Acara kali ini diisi oleh Luis dengan sebuah workshop "what can we learn from a community". Diawali oleh sekilas preview mengenai pentingnya komunitas dalam membentuk perilaku kita sehari2, demikian juga dengan proses pembelajaran kita banyak yang dibentuk oleh komunitas tempat kita berasal. Ada banyak faktor yang menyebabkan pembelajaran di dalam suatu komunitas menjadi lebih efektif daripada pembelajaran secara individu, tetapi masih banyak orang yang belum menyadari atau mengetahui aspek2 positif tersebut. Workshop kali ini bertujuan untuk memberikan highlight beberapa aspek positif dalam pembelajaran dalam komunitas, yang bila kita manfaatkan dapat memperkaya dan memperdalam hasil pembelajaran kita dan juga meningkatkan enjoyment kita dalam belajar. (Belajar di sini bisa dalam arti "umum", dan juga termasuk praktik Dhamma).
Ada 2 aktivitas dalam workshop ini. Aktivitas pertama adalah merasakan bagaimana dalam suatu komunitas bisa terdapat banyak persepsi mengenai satu isu yang dibahas bersama. Perbedaan persepsi ini apabila didiskusikan dengan benar akan membawa pada pemahaman yang lebih dalam mengenai isu tersebut. Bahkan hasil akhir dari diskusi akan berujung pada ko-konstruksi (kontruksi bersama) suatu pengetahuan yang lebih dalam daripada pengetahuan individu2.
Untuk itu, 22 peserta yang hadir dibagi menjadi 3 kelompok dan tiap kelompok mengangkat ketua kelompok yang menjalankan peran untuk mencatat setiap persepsi individu, memfasilitasi diskusi, merangkum hasil diskusi, dan mempresentasikan ke seluruh peserta mewakili kelompok tersebut. Kelompok 1 diketuai oleh Hendri Tan, kelompok 2 oleh Juve, dan kelompok 3 oleh Heinz. Topik yang dibahas oleh masing2 kelompok, berurutan dari kelompok 1, 2, dan 3, adalah pengertian dari Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Berikut bisa dilihat hasil nya pendapat masing2 pribadi dan bagaimana hasil dari diskusi.
Kelompok 1 mengenai definisi Buddha:
Usman : sebutan untuk seseorang yang telah mencapai penerangan sempurna.
Temmy : sebutan untuk seseorang yang telah mencapai pencerahan.
Charlie : gelar untuk seseorang yang telah menyempurnakan parami.
Djoki : yang tercerahkan.
Eka : pelindung umat manusia.
Dessy Ong : guru besar.
Dessy : orang yang telah mencapai penerangan sempurna.
Hendri Tan : seseorang yang telah mencapai pencerahan.
Hasil diskusi: Buddha adalah gelar atau sebutan untuk seseorang yang telah mencapai penerangan sempurna dan menjadi guru besar oleh para dewa dan umat manusia.
Kelompok 2 mengenai definisi Dhamma:
Acun: Ajaran
Juliani: Pelindung
Devy: Ajaran hidup
Yanti: Kebenaran mutlak
Ronny: Tidak tahu
Cindy: Penuntun ke jalan yang benar
Santi: Ajaran Sang Buddha
Juve: Ajaran kebenaran yang membawa ke kebebasan
Hasil diskusi: Dhamma adalah ajaran Sang Buddha tentang Kebenaran Mutlak untuk mencapai kebebasan bagi semua makhluk hidup
Kelompok 3 mengenai definisi Sangha:
Yenita: Siswa sang Buddha
Heinz: Komunitas dari 5 atau lebih Bhikkhu / Bhikkhuni
Irvan: Kelompok yang mempelajari Buddhisme
Steven: Kelompok yang mempraktekkan Dhamma
Helmi: Kelompok yang melanjutkan pembabaran Dhamma
Suryana: Persamuan makhluk-makhluk yang telah mencapai tingkat kesucian
LiShe: Kelompok yang memepelajari dhamma untuk mencapai penerangan sempurna
Hasil diskusi: Sangha adalah komunitas dari siswa sang Buddha yang berjumlah 5 orang atau lebih yang menjalani kehidupan sebagai Bhikkhu/Bhikkhuni dan mempraktekkan Dhamma secara intensif serta membantu dalam pembabaran Dhamma kepada umat awam dengan tujuan mencapai penerangan sempurna
Bisa dilihat dari ke-3 kelompok di atas, bagaimana suatu proses pembelajaran terjadi di dalam suatu komunitas, yaitu setiap individu memiliki suatu pemahaman, yang kebanyakan berbeda, mengenai sesuatu (Buddha, Dhamma, dan Sangha), yang seringkali kita pikir kita sudah memahaminya dengan benar. Saat perbedaan persepsi/pemahaman terjadi, pemahaman kita selama ini pun di-challenge, dan ternyata kita belum memahaminya dengan cukup dalam. Lewat proses mendiskusikan perbedaan persepsi ini, terjadi suatu konvergensi dan proses ko-konstruksi mengenai pemahaman yang disepakati bersama... dan hasil akhirnya jelas memperlihatkan suatu pemahaman yang jauh lebih dalam dan lengkap daripada pemahaman tiap2 individu.
Pada aktivitas kedua, aspek lain dari pembelajaran dalam komunitas menjadi fokusnya, yaitu proses ko-konstruksi suatu kegiatan, di mana bukan hanya pemahaman yang beragam di dalamnya tetapi juga bagaimana pembagian peran (role sharing) dilakukan untuk menciptakan sinergi ... di mana kekuatan2 tiap individu menjadi kekuatan kelompok, dan kelemahan2 tiap individu tertutupi oleh kelompok.
Pada aktivitas kedua ini, ketiga kelompok yang sama diberikan tugas untuk merancang satu acara untuk Kebaktian Indonesia. Beberapa peran penting, seperti pemimpin kebaktian, pengisi acara, dan teknisi sound system dijelaskan. Sedangkan untuk bentuk kegiatan, semuanya diserahkan kepada kreativitas tiap kelompok walaupun faktor constraint tetap diberikan, yaitu kegiatannya musti bersifat realistis. Dalam arti... tidak realistis mempertimbangkan acara "pilgrimage ke India" sebagai acara untuk Indonesian Service. Diskusi berlangsung dengan "alot" dan produktif, dan berikut adalah hasil dari tiap kelompok.
Aktivitas kelompok 1:
Ada beberapa masukan di antaranya mengundang bhikkhu/bhikkhuni sebagai speaker, kunjungan temple untuk perayaan Kathina, kunjungan panti, sport / outing, temple tour, gathering untuk makan vegetarian. Setelah disepakati bersama, kita setuju untuk memilih temple tour. Untuk kegiatan ini, paling tidak membutuhkan 6 peran di antaranya:
1. Tour leader
2. Asisten tour leader (2 - 3 orang sesuai dengan jumlah peserta)
3. Transportasi
4. Konsumsi
5. Promosi event / marketing
6. Finance / bendahara
Pembagian peran ke tiap anggota kelompok belum sempat dilakukan.
Aktivitas kelompok 2:
Mengadakan acara nonton bersama Buddhist Film Festival periode 13 - 19 September 2009 di Lido. Ada 2 acara inti, yaitu nonton film dan dinner bersama. Sebagian peran penting disebutkan, di antaranya humas untuk mempromosikan acara ke anggota IBC, koordinator untuk pembelian tiket.Peran2 lain masih dalam konstruksi.
Aktivitas kelompok 3:
Acara : Nonton dan Diskusi mengenai Aliran Maitreya.
Susunan Panitia:
- Pemimpin Parita : Heinz
- Team Creative : Suryana, Steven dan LiShe
- Sound System : Irvan (dan minta bantuan Farlane / Venny)
- Team Diskusi : Helmi dan Yenita
Dari hasil presentasi ketiga kelompok, dinilai bahwa
Aktivitas kelompok 1 (temple tour): Cocok untuk bentuk alternatif Indonesian Service tetapi perlu perencanaan dan persiapan yang lebih panjang.
Aktivitas kelompok 2 (nonton Buddhist Film Festival):Lebih condong ke acara gathering dan juga timeline nya sangat spesifik (13 - 19 September 09). Jadi bisa dilaksanakan sebagai gathering, tetapi bukan sebagai Indonesian Service.
Aktivitas kelompok 3 (nonton & diskusi): Bentuk yang lebih mudah diimplementasikan dalam 1 Indonesian Service, karena secara setting sudah sama dengan Indonesian service selama ini, dengan bentuk variasi acara yang berbeda.
Untuk itu, kelompok 3 menyanggupi untuk mengimplementasikan acara ini di Indonesian Service bulan September 09. Sementara kelompok 2 akan mengimplementasikan gathering bersama ini. Dan untuk kelompok 1, akan meneruskan diskusi untuk perencanaan dan persiapan yang lebih matang. Ketiga acara ini akan di-post di Discussion Forum nya IBC Facebook untuk dibahas bersama. Silahkan di-akses di link berikut:
Aktivitas 1 (temple tour): http://www.facebook.com/profile.php?id=1438397922&ref=mf#/topic.php?uid=10726183674&topic=8986
Aktivitas 2 (BFF): http://www.facebook.com/profile.php?id=1438397922&ref=mf#/topic.php?uid=10726183674&topic=8985
Aktivitas 3 (nonton & diskusi): http://www.facebook.com/profile.php?id=1438397922&ref=mf#/topic.php?uid=10726183674&topic=8984
Implementasi aktivitas ke-2 ini juga memberikan praktik langsung dari pembelajaran di dalam komunitas, yaitu di dalam komunitas IBC-Sing. Oleh karena itu, mari kita sukseskan bersama ketiga acara tersebut :)
Semoga semua makhluk berbahagia.
Mettacittena,
Luis





