Indonesian Service 15 Agustus 2010

E-mail Print PDF

Writer : Heinz
Editor : Luis & Rika

Kebaktian kali ini diisi oleh Heinz dengan topik 'team work'. Untuk memahami topik team work ini, sarana yang digunakan adalah melalui permainan.

Sebelum memulai permainan, peserta dibagi menjadi 4 kelompok, yang terdiri dari 11-12 orang tiap kelompok. Kemudian berhubung anggota2 dalam kelompok masih malu-malu dan belum kenal satu sama lain, maka diadakanlah game perkenalan terlebih dahulu.

Game perkenalan diawali dengan mengenal nama semua teman2 di dalam kelompok. Kemudian setelah mengenal nama teman2 dalam kelompoknya, setiap kelompok membuat sebuah cerita bersambung di mana bila salah satu anggota kelompok disebut namanya dalam cerita tersebut, maka dia harus melanjutkan cerita itu dan menyebut nama anggota yang lain di cerita dia. Semuanya bersambung sampai semua anggota kelompok menyumbang bagian dalam cerita tersebut. Di sini suasana mulai seru, karena semakin ke belakang, cerita yang dibuat menjadi semakin aneh.

Kemudian game selanjutnya, tiap kelompok harus membuat barisan berdasarkan tanggal dan bulan lahir tanpa bersuara, dengan tujuan untuk saling mengenal dan juga untuk menguji ketua kelompok agar bisa mengatasi masalah komunikasi ini. Hasilnya hanya kelompok 2 dan 3 yang berhasil membuat barisan tanpa kesalahan.

Setelah semua barisan sudah benar dan rapi, maka dimulailah game utama. Tema dari game ini adalah komunikasi melalui pesan berantai di mana anggota yang satu harus menyampaikan syair Dhammapadda ke temannya yang ada di depan barisannya. Sounds easy? Not really, karena aturannya adalah, semua anggota team tidak boleh bersuara pada saat menyampaikan informasi. Jadi mereka hanya boleh menyampaikan pesan dengan gerakan tangan dan mulut. Setelah anggota yang paling terakhir menuliskan pesan yang dia dapatkan, maka barulah anggota team yang lain boleh berbisik untuk menyampaikan informasi selanjutnya.

And let the game begin..

Banyak banget ekspresi-ekspresi dan gerakan-gerakan lucu yang terlihat. Semua pemberi pesan terlihat membuka mulut besar-besar, sambil menggoyang-goyangkan tangan, sementara si penerima pesan bengong sambil berusaha memajukan telinga. Banyak juga kecurangan-kecurangan yang bertebaran di mana-mana, seperti yang dilakukan oleh kelompok 4. Ketua kelompok 4 terus-menerus bicara mengeluarkan suara, dan salah satu anggota kelompok, bisa2 nya pindah posisi ke 2 orang di belakangnya. Setelah pesan sampai ke orang terakhir, kebanyakan kalimat yang sampai sudah berbeda sangat jauuh dengan kalimat awal.

Dan inilah hasil akhir dari tiap kelompok

i. Kelompok 1

• Tadi pagi banyak hujan turun
• Syair lama yang berbunyi sesungguhnya mereka yang telah terbebas dari kekotoran batin. sesungguhnya mereka yang mengenakan jubah.

Syair aslinya adalah:
• Bagaikan hujan yang dapat menembus rumah beratap tiris, demikian pula nafsu akan dapat menembus pikiran yang tidak dikembangkan dengan baik. (Syair 14)
• Barang siapa belum bebas dari kekotoran-kekotoran batin, yang tidak memiliki pengendalian diri serta tidak mengerti kebenaran, sesungguhnya tidak patut ia mengenakan jubah kuning. (Syair 8)

ii. Kelompok 2

• Orang besar bajunya besar. Guru memberikan kebahagiaan. Orang yang mengetahui kebenaran dan ketidakbenaran akan mendapatkan kebenaran dalam dhamma.
• Mereka yang melakukan kebaikan di dunia ini dan mereka yang melakukan kebaikan di dunia lain. Dua-duanya akan mendapatkan kebenaran sesungguhnya.

Syair aslinya adalah:
• Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa dalam pertengkaran mereka akan binasa; tetapi mereka yang dapat menyadari kebenaran ini akan segera menghakhiri semua pertengkaran. (Syair 6)
• Mereka yang menganggap ketidak benaran sebagai kebenaran dan kebenaran sebagai ketidak benaran, maka mereka yang mempunyai pikiran keliru seperti itu, tak akan pernah dapat menyelami kebenaran. (Syair 12)

iii. Kelompok 3

• Baju hujan ngga bisa tembus. Rumah banjir
• Dia menghina saya, dia membunuh saya. Dia merampas milik saya. Selama pikiran belom hilang, kebencian masih tetap ada.
• Tetapi dia yang telah membuang kekotoran kekotoran.

Syair aslinya adalah:
• Bagaikan hujan yang tidak dapat menembus rumah beratap baik, demikian pula nafsu tidak dapat menembus pikiran yang telah dikembangkan dengan baik (Syair 15)
• Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya. Selama seseorang masih menyimpan pikiran-pikiran ini, maka kebencian tak akan pernah berakhir. (Syair 3)
• Tetapi, ia yang telah dapat membuang kekotoran-kekotoran batin, teguh dalam kesusilaan, memiliki pengendalian diri serta mengerti kebenaran, maka sesungguhnya ia patut mengenakan jubah kuning.

iv. Kelompok 4

• Transparan jalan menuju kekal. Orang lengah tidak akan mati. Kekelan (*mungkin yang dimaksud adalah kekekalan) adalah keabadian.

Syair aslinya adalah:
• Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan. Kelengahan adalah jalan menuju kematian. Orang yang waspada tidak akan mati, tetapi orang yang lengah seperti orang yang sudah mati (Syair 22)

Untuk permainan ini, kelompok 2 adalah kelompok yang paling ngga nyambung hasilnya, yang menurut teori penulis, dikarenakan anggota2 kelompok mereka diganggu oleh pengamat kelompok mereka sendiri yaitu Usman. Teori ini diperkuat dengan pesan pertama kelompok 2 yang sepertinya refer ke Usman (orang besar, berbadan besar). Karena ke-'nggak-nyambungan' yang parah seharusnya kelompok 2 yang dinyatakan kalah, namun karena ketika permainan berlangsung, tim juri menemukan banyak pelanggaran yang dilakukan oleh kelompok 4, akhirnya kelompok 4 lah yang dikenakan hukuman untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya namun mereka meminta untuk menggantinya dengan lagu 17 Agustus. Sepertinya mereka tidak hapal dengan lagu Indonesia Raya? Bahkan ada satu anggotanya yang mengusulkan untuk menyanyikan "Majulah Singapura". Ck ck ck....

Setelah semua permainan selesai, masing-masing kelompok diminta untuk memberikan saran untuk Topik Indonesian Service, acara outing dan juga kritik. Berikut ini daftar saran dan kritik dari masing2 kelompok i.

Kelompok 1
• Format
Kebaktian Kalo baca parita Namakara Gatha lebih baik bersama-sama. Kalo terpisah itu biasanya ada dihadiri bhante.

• Topik
- Sharing Experience related to buddhishm
- Tentang Kamesu - Micchacara (tindakan asusila – Sila 3)

• Outing
- Picnic
- Karaoke
- Nonton bareng
- Makan bareng
- BBQ

ii. Kelompok 2
• Topik
- Mengundang Bhante untuk memberikan Dhamma Talk
- Bahas cerita jataka
- Membahas ritual kebaktian selain Theravada
- Membahas arti dari jenis-jenis parita

• Outing
- BBQ
- Rock Climbing
- Forest adventure
- Paint Ball
- Temple Adventure
- Kunjungan ke tempat social di dalam atau diluar Singapore

iii. Kelompok 3
• Topik
- Buddhism in daily life (work, study, family)

• Outing
- Hiking di tree top mc Ritchie
- Cycling di pulau ubin
- Skill sharing: photography, masak, dll
- BBQ

• Saran Lainnya
Syairnya agak kepanjangan ya.

• Kritik Baik-baik aja

iv. Kelompok 4
• Topik
- Kumpul kumpul bareng biar lebih mengenal satu sama lain dan sharing
- Hiri dan Ottapa

• Outing
- Hiking
- Dinner
- Movie
- Camping
- BBQ
- Sama-sama mendaki gunung, menaklukan gunung Kinabalu
- Sama-sama kumpul dan jalan2 di pantai

• Kritik
- Bikin comshare/komsel/small group kaya agama lain (once a week ketemu di rumah siapa)
- Dhamma talk di dalam Indonesian service setiap minggu ke tiga setiap bulannya.

Setelah semua menuliskan saran dan kritik, diadakan suatu tantangan kepada masing2 group untuk membuktikan team work mereka, apakah mereka berani untuk membawakan apa yang telah mereka sarankan. Dan hasilnya adalah

• Kelompok 1 akan membawakan topic “Mengenai Kamesu Micchacara” pada bulan November 2010
• Kelompok 2 akan membawakan topic “Bahas cerita jataka” pada bulan Desember 2010
• Kelompok 3 akan membawakan topic “Buddhism in daily life (work, study, family)” pada bulan Januari 2011
• Kelompok 4 akan membawakan topic “Hiri dan Ottapa” pada bulan Februari 2011

List team member

• Kelompok 1
1. Jumianto
2. Lycky Kusman
3. Yani
4. Maya
5. Insan
6. Kurniawan
7. Yuliana
8. Henry
9. Melina
10. Olive
11. Deasy
12. Willy

• Kelompok 2
1. Erwin Sudilan
2. Silvy
3. Herman
4. Budi
5. Adi
6. David
7. Yanti
8. Rika
9. Andry
10. Indah
11. Pin Pin
12. Henry

• Kelompok 3
1. Suryana
2. Hartono
3. Ivan
4. Erna
5. Sinpan
6. Yuli
7. Livani
8. Welly
9. Chen
10. Brian Leonal
11. Ie Ie

• Kelompok 4
1. Jufiur
2. Rudy
3. Arifin
4. Yennita
5. Tonny
6. Temmy
7. Mei Mei
8. Linda
9. Lusi
10. Mega
11. Juli
12. Tini

 

Indonesian Service 18 July 2010

E-mail Print PDF

Summary Indonesian Service 18 July 2010
By: Usman
Edited and added by: Luis

 

Salah satu kekayaan Buddhisme adalah berkembangnya simbolisme untuk merepresentasikan ajaran2 Sang Buddha di berbagai tradisi Buddhisme di dunia. Tibet, dengan kekayaan budaya dan seni nya, merupakan salah satu pusat perkembangan simbolisme ini dalam bentuk lukisan2 yang indah (yang disebut tangka) dan juga tata cara ritual yang artistik dan penuh makna yang berakar dalam kebudayaan masyarakat Tibet. Tradisi Buddhisme yang berkembang di Tibet, merupakan pengembangan dari tradisi Buddhisme Mahayana yang terlebih dahulu berkembang di China setelah masuknya Buddhisme dari India melalui jalur perdagangan. Dalam kesempatan ini, saya menjelaskan makna dari beberapa tangka dari Tibet yang merepresentasikan makhluk2 suci yang dikenal dalam Buddhisme Mahayana dan Vajrayana, beserta paralel nya dengan lukisan2 di tradisi Mahayana di China, dan juga simbol2 lainnya yang digunakan oleh masyarakat Buddhis setempat.

Pertama2, saya mempresentasikan lukisan dari 3 jenis Buddha yang paling dikenal dalam tradisi Mahayana/Vajrayana, yaitu Buddha Sakyamuni, Buddha Amitabha, dan Buddha Bhaisajyaguru. Buddha Sakyamuni adalah Guru Utama seluruh umat Buddha di dunia yang lahir di India 2600 tahun yang lalu, mencapai penerangan sempurna dan memutar roda Dharma yang masih terus berputar sampai sekarang. Buddha Amitabha adalah samboghakaya  (tubuh kosmis) dari Buddha Sakyamuni yang melambangkan kualitas Penerangan Sempurna dari semua Buddha dan digambarkan berada dalam Tanah Suci Barat sebagai alam ideal untuk mempelajari Dharma dan mencapai pencerahan. Buddha Bhaisajyaguru adalah samboghakaya (tubuh kosmis) dari Buddha Sakyamuni yang melambangkan kualitas “Kesembuhan/Pengobatan” dari Dharma, yaitu kesembuhan dari segala penderitaan (Dukkha). Berikut adalah keterangan dan mantra yang biasa dilafalkan untuk masing2 Buddha tersebut.

1. Buddha Sakyamuni ( Om Muni Muni Maha Muni Shakyamuni Soha)

2. Buddha Amitabha (Om Amideva Hrih). Dalam tangka ini, Buddha Amitabha berwarna merah. Dalam lukisan Tibet, warna banyak digunakandalam menyampaikan makna dan arti dari lukisan tersebut

3. Buddha Bhaisajyaguru (o bhaiajye bhaiajye mahābhaiajye bhaiajyarāje samudgate svāhā. ) dalam lukisan ini, Buddha Bhaisajyaguru berwarna biru tua, dan tangan kiri memenggang obat-obatan.

Selain ketiga Buddha ini, saya pun mempresentasikan tangka dari Bodhisattva Maitreya, yang sekarang berada di alam Tusita, dan akan menjadi Buddha berikutnya setelah Dharma yang diajarkan oleh Buddha Sakyamuni tidak lagi dikenal di dunia.

4. Bodhisattva Maitreya (o maitri mahāmaitri maitriye svāhā ) dengan posisi duduk, dan kedua kaki menginjak bunga teratai

                

                

Setelah menjelaskan beberapa tangka di atas, saya menjelaskan makna ritual Buddhisme Vajrayana, salah satunya adalah persembahan air yang terdiri atas 7 cawan dan 1 “suara”. Isi dari ketujuh cawan tersebut adalah:

  1. Air minum
  2. Air basuh (satu, dua – Melambangkan pembelajaran (studi) Dharma kita dan semua makhluk )
  3. Bunga (Melambangkan kualitas bajik seperti cinta kasih, welas asih, iba melihat penderitaan orang lain, suka berdana, dsb)
  4. Dupa (Melambangkan moralitas/sila, seperti: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbohong, dll)
  5. Pelita (Melambangkan kebijaksanaan – dengan hidupnya lampu, kita dapat melihat sesuatu dengan jelas)
  6. Wewangian ( Melambangkan keyakinan kita terhadap Guru, Buddha, Dharma & Sangha)
  7. Makanan/Buah-buahan (Melambangkan konsentrasi di mana pikiran kita terfokus ketika belajar Dharma)

Untuk “cawan” (abstrak) kedelapan yang berisikan suara, melambangkan keharmonisan dalam segala aspek praktik, di mana semuanya menjadi lancar, hubungan kita dengan Guru dan dengan praktisi lainnya juga harmonis, dll.

Setelah menjelaskan ke-khas-an dari tradisi Vajrayana Tibet, tiba saatnya saya mengeksplorasi kaitan dari aspek2 tersebut yang juga terdapat dalam candi2 di Indonesia. Pada jaman kedatuan Sriwijaya dan Keprabuan Majapahit, agama Buddha Vajrayana berkembang pesat di bumi nusantara dan jejak2nya masih dapat kita lihat di candi2 yang masih ada di tanah Jawa. Berikut adalah penjelasan dari relief2 yang terdapat dalam candi2 tersebut.

Candi Mendut (Jawa Tengah arah ke Semarang)
Candi Mendut merupakan bangunan candi yang menggambarkan pemutaran roda Dharma (Dharmacakra) oleh Sang Buddha di taman rusa Isipatana, setelah beliau mencapai penerangan sempurna. Dalam sutra Mahayana, peristiwa ini diungkapkan dalam Mahavaipulya Avatamsaka Sutra. Dalam candi ini terdapat relief Bodhisattva Avalokitesvara bertangan empat. Sebagai pembanding, saya memberikan tangka Bodhisattva Avalokistesvara bertangan empat dalam Tangka Tibet, Avalokitesvara berkepala 11 dalam Tangka Tibet, dan Dewi Kuan Yin dalam lukisan China.

Di dalam candi Mendut juga terdapat tiga arca bodhisattva utama, yaitu bodhisattva Maitreya, bodhisatva avalokitesvara, dan bodhisattva Vajrapani.

Candi Plaosan, (Jawa tengah arah ke Solo)
Di dalam candi utama terdapat arca 5 Dhyani Buddha (Buddha kosmis) dan 8 Bodhisattva utama. Kelima Dhyani Buddha adalah Buddha Aksobhya, Buddha Ratnasambhava, Buddha Amitabha, Buddha Amoghasiddhi, dan Buddha Vairocana. Kedelapan Bodhisattva utama adalah Arya Maitreya, Arya Samantabhadra, Arya Avalokitesvara, Arya Akashagarbha, Arya Ksitigarbha, Arya Sarvanivaranaviskambini, Arya Manjushri, dan Arya Vajrapani. Istilah Arya mengacu kepada makhluk yang mulia, seperti halnya dalam Arya Sangha yang mengacu pada makhluk suci sotapana, sakadagami, anagami, dan arahat. Dalam tradisi Mahayana/Vajrayana, para bodhisattva yang beraspirasi untuk menjadi Buddha juga disebut Arya.

Candi Kalasan, (Jawa Tengah , arah ke Solo)
Di dalam candi terdapat sebuah arca Dewi Tara yang sangat besar (dilihat dari besarnya tahta Dewi Tara yang tertinggal), namun kini arca tersebut tidak ada lagi. Dewi Tara diceritakan sebagai manifestasi dari air mata Bodhisattva Avalokitesvara yang muncul setelah beliau melihat penderitaan makhluk2 yang tak terhingga banyaknya di dalam Samsara. Dewi Tara melambangkan aktivitas Bodhisattva Avalokitesvara dalam usahanya menyelamatkan semua makhluk dari samsara, dan disebut sebagai Dewi pembebasan samsara, dengan mantra Om Tare Tuttare Ture Svaha. Saya memaparkan beberapa lukisan Dewi Tara (Tara hijau, Tara putih, dan 21 Tara).

Candi Sewu, (Jawa Tengah, dekat candi Prambanan)
Candi ini merupakan mandala (ladang persembahan kebajikan) yang disebut Dharmadhatu Vagishvari Manjushri. Dahulu di dalam candi utama terdapat sebuah arca Arya Manjushri yang sangat besar, yang merupakan Bodhisatva pelambang kebijaksanaan (O
A Ra Pa Ca Na Dhī ). Saya mempresentasikan 2 versi lukisan Bodhisattva Manjushri, yang pertama dalam tangka Tibet dan yang kedua versi Chinese yang memperlihatkan beliau menaiki seekor Singa. Sebagai pembanding, saya juga mempresentasikan 2 versi lukisan Bodhisatva Samantabhadra, yang dalam versi lukisan Chinese nya, beliau digambarkan menaiki seekor gajah. Dalam versi Tibetnya, beliau digambarkan bersatu dengan seorang wanita yang melambangkan seorang bodhisattva tidak lagi memiliki jenis kelamin (bukan laki2 maupun perempuan). Sama halnya dengan bodhisattva Avalokitesvara versi Chinese yang seringkali digambarkan berwujud perempuan tetapi memiliki dada yang bidang seperti laki2, untuk melambangkan tidak adanya jenis kelamin dalam bodhisattva. Bodhisattva Mahastamaprapta, bodhisattva Avalokitesvara, dan Buddha Amitabha sering digambarkan sebagai Triratna dalam aliran Tanah Suci Amitabha.

Candi Borobudur, (Jawa Tengah arah ke Semarang, dekat Candi Mendut)
Candi Borobudur merupakan mandala (ladang persembahan kebajikan) terbesar di nusantara, dan setiap tingkatannya memiliki arti tertentu. Bagi umat Buddhis, khususnya tradisi Tibetan, tidaklah asing dengan istilah "Persembahan Mandala". Mandala itu sendiri merupakan miniatur dari alam semesta. Kata mandala itu sendiri dalam bahasa Tibet yakni kyilkor. Suku kata pertama kyil diterjemahkan sebagai "intisari" dan suku kata kedua kor adalah "untuk memperoleh" sehingga digabungkan menjadi "untuk memperoleh intisari", suatu pengertian yang memiliki makna sangat mendalam.

Dalam aliran Tantrayana, tingkatan2 ini digambarkan sebagai relief2 Gandavyuha dan Bhadracari. Melalui penempatan arca-arca Pancatathagata – sebagai simbol praktik di perkirakan bahwa Candi Borobudur lebih menitikberatkan pada ajaran Tantrayana atau Mahayana. Pembagian Candi Borobudur menjadi Kama-dhatu, Rupa-dhatu, Arupa-dhatu tidak relevan karena pembagian ini hanya menggambarkan penggolongan alam kehidupan menurut kosmologi Buddhis yang tidak bisa menjelaskan keberadaan simbol-simbol Tantrayana dan Mandala. Karena itu teori interpretasi yang paling di rekomendasi adalah Teori de Casparis yang membagi Borobudur ke dalam 10 tingkatan Bodhisattva. Akhir kata, bisa di simpulkan bahwa Borobudur adalah Perwujudan realisasi pencerahan seorang manusia yang berusaha menyempurnakan kebajikan dan kebijaksanaan yang dirangkum ke dalam relief-relief dan arca-arca menjadi satu candi. Tingkat terendah dari mandala melambangkan aspirasi untuk memperoleh kelahiran yang bahagia di kehidupan mendatang. Tingkat selanjutnya melambangkan aspirasi untuk bebas dari samsara. Dan tingkat teratas melambangkan merupakan tujuan teragung, yaitu untuk mencapai Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna.

Praktik persembahan mandala juga dapat melibatkan enam paramita sebagai berikut:
1. Dana
Membangkitkan keinginan untuk memberi, pikiran untuk mempersembahkan mandala dan benar-benar mempersembahkan bahan-bahan persembahan.
2. Sila
Mempersembahkan mandala tidak hanya untuk keuntungan diri sendiri, tetapi untuk kebaikan semua makhluk. Bekerja hanya untuk kepentingan diri sendiri dapat menghambat praktik disiplin moral.
3. Kesabaran
Sabar ketika mengatasi kesulitan yang timbul dalam praktik ini, seperti melakukan visualisasi dan sebagainya, serta mengatasi kemalasan untuk melakukan praktik ini.
4. Semangat
Melakukan praktik ini dengan kegembiraan dan upaya yang bersemangat.
5. Konsentrasi
Berkonsentrasi dengan baik ketika melakukan praktik ini dan tidak membiarkan pikiran melayang.
6. Kebijaksanaan
Mengetahui dengan pasti bagaimana membuat persembahan dan mengerti bahwa meskipun mandala itu eksis secara konvensional, namun tidak ada eksistensi yang berdiri sendiri

Setelah menjelaskan beberapa tangka Buddha dan Bodisattva di atas, saya melanjutkan dengan mempresentasikan beberapa Tangka Guru besar Vajrayana dari silsilah Kadampa. Silsilah ini cukup menarik karena mencakup seorang Guru Besar dari Indonesia pada jaman Sriwijaya, yaitu Swarnadwipa Dharmakirti, yang sekaligus berperan dalam perkembangan agama Buddha di Tibet. 

1. Padmasambhava / Guru Rinphoce
Padmasambhava Yang Maha Tahu

Yang pertama adalah Guru Padmasambhava, yang sangat terkenal dalam tradisi Vajrayana, karena kemampuannya dalam memprediksikan kapan Buddhisme Vajrayana berkembang. Siswa Vajrayana banyak yang mengetahui bahwa Padmasambhava pernah ditanyai oleh siswa Nya : “Mohon Guru berwelas asih mengajarkan, kapankah masa penghujung Dharma akan datang ?”

Dengan penuh kasih , Padmasambhava menjawab : “Saat burung besi terbang di angkasa (pesawat terbang), saat kuda berjalan (kereta api atau mobil), saat itulah kedatangan masa penghujung Dharma. Pada saat itu Buddhisme Tantrayana akan berkembang dan menyebar ke seluruh dunia. Di saat penghujung Dharma, di seluruh dunia akan muncul fenomena ini : seorang raja tidak seperti layaknya raja, para pejabat tidak seperti layaknya pejabat, ayah tidak seperti layaknya ayah, anak juga tidak seperti layaknya anak, hubungan ayah dan anak seperti hubungan teman bermain. Wanita tidak menjaga kesuciannya, laki-laki tidak bisa mengendalikan nafsu birahi, akan muncul berbagai fenomena jatuhnya Dharma.”

Padmasambhava mengatakan : “Sungguh menakjubkan ! kereta pada masa itu tidak perlu ditarik dengan kuda, bisa dengan otomatis bergerak. Menakjubkan ! kaum muda pada masa itu, kakinya menginjak tanduk kerbau, bahkan ditambah roda , bisa menggelinding kesana kemari. Sungguh menabjubkan , orang pada masa itu tidak perlu keluar rumah, tiap hari hanya perlu duduk di hadapan cermin akan mampu mengetahui banyak hal di dunia, bahkan bisa saling mengirim kabar ! Sungguh menakjubkan.” Sampai disini mungkin Anda sekalian tahu, mobil, skateboard ,layar monitor, internet, e-mail dan chatting,semua adalah hal-hal yang sangat akrab bagi manusia masa kini.

Lebih lanjut, Padmasambhava juga mengatakan : “Pada saat itu (masa penghujung Dharma) banyak para bhiksu-bhiksuni yang mengejar nama dan keuntungan pribadi, kemana-mana menipu para umat, mengambil harta kekayaan orang lian dengan tidak semestinya, menggunakan harta pribadi orang lain namun tidak untuk sesuatu yang berhubungan dengan Dharma, tidak melafal sutra dan ajaran , malah termabuk dalam hiburan dunia, melanggar sila tanpa penyesalan.”

2. Swarnadwipa Dharmakirti

Terjemahan Tibet dari kata pa secara harfiah menunjuk pada orang, Jadi Ser-gling-pa berarti orang yang berasal dari Serling/Swarnadwipa. Nama asli beliau adalah Dharmakirti. Dikatakan dalam Riwayat Guru-Guru Lamrim, bahwa Dharmakirti pergi ke Jambudwipa (India) belajar di bawah Sri Ratna dan menjadi biksu di bawah guru ini. Dikatakan juga Dharmakirti lahir dari keluarga kerajaan, dia adalah anak raja dari Sriwijaya.

Banyak catatan yang bisa diketemukan mencatat bahwa seorang Guru besar dari India bernama Atisa berlayar selama empat belas bulan (ada sumber yang mengatakan tiga belas bulan) dari Benggal (India) menuju Swarnadwipa (Sumatera) pada usia tiga puluh satu tahun dan tinggal di Swarnadwipa selama tiga belas tahun lamanya untuk belajar dari Dharmakirti. Pada waktu itu di Dharmakirti adalah seorang guru agama Buddha yang sangat terkenal yang bertempat tinggal di ibukota Sriwijaya. Perjalanan pelayaran ini dimulai pada tahun 1012 Masehi, ada juga yang mengatakan pada tahun 1013 Masehi.

Tidak ada yang tahu sampai kapan Guru Besar Dharmakirti hidup. Catatan dari Tibet menerangkan beliau hidup hingga usia 150 tahun dan bertempat tinggal di Swarnadwipa ketika Atisa mencapai kedudukan tertinggi sebagai pendeta besar di biara Vikramasila di India. (Cerita lebih lengkap silakan kunjungi www.kadamchoeling.or.id )

3. Guru Atisa

Atisa (982-1054 M) dilahirkan pada keluarga kerajaan di kota Zahor dengan nama Chandragarbha, merupakan anak kedua dari raja yang berkuasa di India bagian timur yang sekarang adalah Bengal. Ayah beliau adalah Raja Kalyanasri dan Ibu beliau adalah Sri Prabhawati. Saudara tua Atisa adalah Padmagarbha dan yang terkecil adalah Srigarbha.

Atas petunjuk Tara, beliau berangkat ke Swarnadwipa untuk memperoleh pelajaran tentang bodhicitta (batin pencerahan) pada Guru Dharmakirti. Dari Gurunya Rahulagupta, Atisa menerima semua pelajaran tentang Tantra dan mengintruksikan untuk menjadikan Maha Karunika sebagai Istadewata.

Setelah kembali dari Sumatera ke India, Raja India Mahapala meminta beliau menjadi kepala biara Vikramasila dan menduduki posisi Pendeta Tinggi. Setelah beberapa tahun kemudian, Atisa diundang ke Tibet untuk menghidupkan kembali Buddhis di tanah bersalju setelah terjadi kemerosotan oleh Raja Langdharma dari tahun 838-842 M. Beliau berangkat dari biara Vikramasila, yang pada waktu itu dikepalai oleh Ratnakara.

Atisa mengatakan pada risalah di catatan Tibet, "Saya tidak membuat perbedaan di antara semua guru satu dengan guru lainnya akan tetapi karena kebaikan hati dari Mahaguruku dari Pulau Emas saya memperoleh sejengkal kebaikan hati (bodhicitta) kedamaian batin, dan hati yang mengabdi". Selama 12 tahun, Atisa belajar di Sumatera yang akhirnya membawa beliau menjadi seorang guru besar filosofis Mahayana dan Logika yang tersohor. Tak diragukan lagi bahwa Dharmakirtilah yang membuat Atisa menjadi seorang pandita besar. (Cerita lebih lengkap silakan kunjungi www.kadamchoeling.or.id )

Setelah menjelaskan tangka Guru Besar, di lanjutin dengan beberapa tangka yang berkaitan dengan para makhluk suci dan dewa neraka.

1. Bhava-Cakra

12 Mata Rantai Pratityasamudpada

                          

Hyang Buddha mengajarkan bahwa ada 12 mata rantai yang saling terkait, yang membelenggu kita dalam samsara. Kedua belas mata rantai tersebut dapat dilihat di sekeliling bhava-cakra. Mata rantai yang pertama akan mengakibatkan yang kedua, yang kedua mengakibatkan yang ketiga, demikian seterusnya. Roda kehidupan ini dicengkeram oleh Yama, dewa kematian. Hal ini menunjukkan bahwa selama kita berada dalam samsara, kita tidak memiliki pilihan selain mati dan terlahir kembali. Keterangan mengenai Yama dapat dibaca di Dhammapada 235:

(235) Sekarang ini engkau bagaikan daun mengering layu. Para utusan raja kematian (Yama) telah menantimu. Engkau telah berdiri di ambang pintu keberangkatan, namun tidak kaumiliki bekal untuk perjalanan nanti.

Keduabelas mata rantai ini adalah:

1 .ketidak tahuan (avija, wuming)

2. bentuk-bentuk karma (sankhara, xing)

3. kesadaran (vinnana, shi)

4. modalitas (namarupa, ming she)

5. enam landasan indra (salayatana, liu ru)

6. kontak (phasaa, chu)

7. perasaan (vedana, shou)

8. keinginan (tanha, ai)

9. keterikatan (upadana, qu)

10. menjadi (bhava, you)

11. kelahiran (jati, shen)

12. kematian (marana, si)

 

2. Mahakala (dikatakan sebagai manifestasi dari bodhisattva Avalokitesvara)

3. Vajrapani

4. Jambala Kuning, Jambala Merah /Ganesha (yang menolong Sakyamuni Buddha waktu akan dicelakai Devadatta adalah Trio Dzambala (Dzambala Merah, Dzambala Kuning, Dzmbala Hijau). Mereka berubah menjadi akar pohon, yang hanya menyebabkan luka kecil pada Kaki Sakyamuni Buddha. Lebih lengkapnyabisa lihat di Topik mengenai Dzambala Kuning (di www.wihara.com)

5. Bodhisatva Ksitigarbha
Adalah bodhisattva yang memiliki ikrar mulia untuk tidak menjadi seorang Buddha sampai neraka kosong.

Selain tangka2 di atas, saya juga melanjutkan penjelasan beberapa simbol dalam agama Buddha seperti

1. Delapan lambang keberuntungan

a. payung sebagai simbol kekuasaan atau tingkat kemegahan mudah diketahui. Juga, kenyataan bahwa payung melindungi yang membawa dari panas matahari dipindahkan dalam lingkungan religius sebagai pelindung melawan panas dari perbuatan-perbuatan jahat (nyon-mongs, skt. Klesa):

b. Dalam Buddhisme, ikan mas melambangkan kebahagiaan, sebab ikan-ikan tersebut memiliki kebebasan sempurna di dalam air. Ikan-ikan tersebut melambangkan kesuburan dan kekayaan (berlimpah-ruah)

c. Bentuk khusus jambangan harta benda (jika) dilihat di antara Delapan Simbol merupakan sebuah tanda pemenuhan keinginan spiritual dan materi, dan juga merupakan sifat dewa-dewa tertentu yang berhubungan dengan kekayaan

d. Lotus adalah salah satu dari simbol yang dikenal. Lotus dianggap simbol dari kesucian, walaupun lotus memiliki akar di dalam lumpur dalam sebuah kolam dan danau, dia tetap memunculkan kecantikan dari bunganya tanpa noda keatas permukaan air.

e. Diantara ke-8 simbol, Siput atau Keong berdiri untuk kemasyuran dari ajaran Sang Buddha, dimana tersebar ke segala penjuru seperti suara terompet siput tersebut. Jadi siput/keong dalam masyarakat Tibet memiliki arti religius yang murni.

f. Simpul tak berujung adalah suatu hiasan grafis TERTUTUP, yang terdiri atas tali-tali bersudut kanan yang saling menjalin,karena simpul ini tidak berawal dan berakhir, simpul ini juga menandakan pengetahuan Buddha yang tanpa batas.

g. Panji kemenangan menandakan terutama pada kemenangan ajaran Buddhisme, kemenangan pengetahuan kebijaksanaan atas ketidak-tahuan atau kemenangan atas semua rintangan, pencapaian kebahagiaan.

h. Roda Dharma, juga mempunyai arti religius murni sebagai simbol ajaran Buddha. Ini mengingatkan kita bahwa Dharma adalah mencakup semua dan lengkap didalamnya. Tidak ada awal dan akhir, dan sekaligus dalam gerakan (berputar) dan diam. Jadi, umat Buddha melihatnya sebagai pernyataan kelengkapan dan kesempurnaan dari ajaran, dan keinginan agar ajarannya tersebar lebih luas.

2. Ornamen Roda Dharma (versi Tibetan) senantiasa digunakan dalam puja bakti dengan memutarkan roda tersebut dengan tangan. Makna dari ritual ini adalah supaya Dharma ajaran Sang Buddha terus berputar dan berkembang dalam penyebarannya.

3. Tasbih, tasbih dalam aliran Mahayana sering di pakai untuk menghitung pelafalan mantra atau paritta. Jumlah tasbih selalu 108, ini ada yg mengatakan karena jumlah biji pohon bodhi selalu berjumlah 108, dan ada juga yang mengatakan melambangkan 9 planet di tata surya dan 12 shio, 9x12=108

4. Rusa dan roda Dharma, ini melambangkan tempat belajar Dharma, karena Sang Buddha pertama kali membabarkan Dharma di Taman Rusa Isipatana. Oleh karena itu, simbol rusa digunakan untuk melambangkan tempat belajar Dharma.

 

Referensi:

http://www.kadamchoeling.or.id

http://dhammacitta.org

http://www.siddhi-sby.com

http://www.wihara.com

 

 

 

 

 

Nonton bareng "Buddhist Film Festival 2009"

E-mail Print PDF

Kelompok 2: Juve, Yanti, Hendri, Devy, Cindy, Ronny, Santi, Juliani.

Hi all, kami dari kelompok 2, mau membagi informasi mengenai acara yang telah kami lakukan tanggal 19 September 2009: Nonton Festival Film Buddhis dan makan2 :)

Baik, mulai dari nonton dulu, kita melihat 2 film, yang pertama film pendek berjudul “A Little Note”. Film ini menceritakan tentang hubungan seorang anak dengan ibunya yang mengharukan. Menyaksikan perjuangan dan kisah hidup mereka membuat banyak penonton mau mengeluarkan air mata, termasuk saya, untung aja ketahan..:-D. Terus film yang ke dua berjudul “Buddha Collapsed Out of Shame”, film ini menceritakan 2 patung Buddha besar di Afghanistan yang di bom dan hancur oleh kelompok Taliban, dan juga menceritakan mengenai seorang anak kecil (perempuan) yang mau sekolah, tapi susah sekali, banyak sekali halangannya, dari situ, kami membuat beberapa kesimpulan :

1. Manusia hidup harus selalu berusaha mencapai cita – citanya.
2. Tidak semua keinginan kita bisa tercapai.
3. Lingkungan yang kita tempati dan pergaulan kita, sangat berpengaruh kepada kita, baik untuk kemajuan ataupun sebaliknya.
4. Berpikir positif dalam setiap situasi adalah yang terbaik. :)

Baik, itu dari nonton, setelah itu, kita pergi makan bersama di Indo Kitchen, dihadiri kurang lebih 20 orang, makanannya lumayan enak dan kita dapat diskon juga, berkat salah satu teman kita, dindin. Setelah makan, kita bubaran dan pulang kearah dan tujuan masing – masing.

Baik, kepada teman – teman semua, jika ada kritik dan saran, jangan ragu – ragu untuk mengirim kannya ke saya, baik demi perkembangan acara yang akan di lakukan di IBC Sing ntinya.

Email : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .

Terimakasih.

By: Juve

 

 

Indonesian Service: 16 August 2009

E-mail Print PDF

Hi all,

Berikut summary Indonesian Service bulan Agustus yang kita laksanakan hari minggu kemarin, 16 August 2009. Acara kali ini diisi oleh Luis dengan sebuah workshop "what can we learn from a community". Diawali oleh sekilas preview mengenai pentingnya komunitas dalam membentuk perilaku kita sehari2, demikian juga dengan proses pembelajaran kita banyak yang dibentuk oleh komunitas tempat kita berasal. Ada banyak faktor yang menyebabkan pembelajaran di dalam suatu komunitas menjadi lebih efektif daripada pembelajaran secara individu, tetapi masih banyak orang yang belum menyadari atau mengetahui aspek2 positif tersebut. Workshop kali ini bertujuan untuk memberikan highlight beberapa aspek positif dalam pembelajaran dalam komunitas, yang bila kita manfaatkan dapat memperkaya dan memperdalam hasil pembelajaran kita dan juga meningkatkan enjoyment kita dalam belajar. (Belajar di sini bisa dalam arti "umum", dan juga termasuk praktik Dhamma).

Ada 2 aktivitas dalam workshop ini. Aktivitas pertama adalah merasakan bagaimana dalam suatu komunitas bisa terdapat banyak persepsi mengenai satu isu yang dibahas bersama. Perbedaan persepsi ini apabila didiskusikan dengan benar akan membawa pada pemahaman yang lebih dalam mengenai isu tersebut. Bahkan hasil akhir dari diskusi akan berujung pada ko-konstruksi (kontruksi bersama) suatu pengetahuan yang lebih dalam daripada pengetahuan individu2.

Untuk itu, 22 peserta yang hadir dibagi menjadi 3 kelompok dan tiap kelompok mengangkat ketua kelompok yang menjalankan peran untuk mencatat setiap persepsi individu, memfasilitasi diskusi, merangkum hasil diskusi, dan mempresentasikan ke seluruh peserta mewakili kelompok tersebut. Kelompok 1 diketuai oleh Hendri Tan, kelompok 2 oleh Juve, dan kelompok 3 oleh Heinz. Topik yang dibahas oleh masing2 kelompok, berurutan dari kelompok 1, 2, dan 3, adalah pengertian dari Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Berikut bisa dilihat hasil nya pendapat masing2 pribadi dan bagaimana hasil dari diskusi.

Kelompok 1 mengenai definisi Buddha:
Usman : sebutan untuk seseorang yang telah mencapai penerangan sempurna.
Temmy : sebutan untuk seseorang yang telah mencapai pencerahan.
Charlie : gelar untuk seseorang yang telah menyempurnakan parami.
Djoki : yang tercerahkan.
Eka : pelindung umat manusia.
Dessy Ong : guru besar.
Dessy : orang yang telah mencapai penerangan sempurna.
Hendri Tan : seseorang yang telah mencapai pencerahan.

Hasil diskusi: Buddha adalah gelar atau sebutan untuk seseorang yang telah mencapai penerangan sempurna dan menjadi guru besar oleh para dewa dan umat manusia.

Kelompok 2 mengenai definisi Dhamma:
Acun: Ajaran
Juliani: Pelindung
Devy: Ajaran hidup
Yanti: Kebenaran mutlak
Ronny: Tidak tahu
Cindy: Penuntun ke jalan yang benar
Santi: Ajaran Sang Buddha
Juve: Ajaran kebenaran yang membawa ke kebebasan

Hasil diskusi: Dhamma adalah ajaran Sang Buddha tentang Kebenaran Mutlak untuk mencapai kebebasan bagi semua makhluk hidup

Kelompok 3 mengenai definisi Sangha:
Yenita: Siswa sang Buddha
Heinz: Komunitas dari 5 atau lebih Bhikkhu / Bhikkhuni
Irvan: Kelompok yang mempelajari Buddhisme
Steven: Kelompok yang mempraktekkan Dhamma
Helmi: Kelompok yang melanjutkan pembabaran Dhamma
Suryana: Persamuan makhluk-makhluk yang telah mencapai tingkat kesucian
LiShe: Kelompok yang memepelajari dhamma untuk mencapai penerangan sempurna

Hasil diskusi: Sangha adalah komunitas dari siswa sang Buddha yang berjumlah 5 orang atau lebih yang menjalani kehidupan sebagai Bhikkhu/Bhikkhuni dan mempraktekkan Dhamma secara intensif serta membantu dalam pembabaran Dhamma kepada umat awam dengan tujuan mencapai penerangan sempurna

Bisa dilihat dari ke-3 kelompok di atas, bagaimana suatu proses pembelajaran terjadi di dalam suatu komunitas, yaitu setiap individu memiliki suatu pemahaman, yang kebanyakan berbeda, mengenai sesuatu (Buddha, Dhamma, dan Sangha), yang seringkali kita pikir kita sudah memahaminya dengan benar. Saat perbedaan persepsi/pemahaman terjadi, pemahaman kita selama ini pun di-challenge, dan ternyata kita belum memahaminya dengan cukup dalam. Lewat proses mendiskusikan perbedaan persepsi ini, terjadi suatu konvergensi dan proses ko-konstruksi mengenai pemahaman yang disepakati bersama... dan hasil akhirnya jelas memperlihatkan suatu pemahaman yang jauh lebih dalam dan lengkap daripada pemahaman tiap2 individu.

Pada aktivitas kedua, aspek lain dari pembelajaran dalam komunitas menjadi fokusnya, yaitu proses ko-konstruksi suatu kegiatan, di mana bukan hanya pemahaman yang beragam di dalamnya tetapi juga bagaimana pembagian peran (role sharing) dilakukan untuk menciptakan sinergi ... di mana kekuatan2 tiap individu menjadi kekuatan kelompok, dan kelemahan2 tiap individu tertutupi oleh kelompok.

Pada aktivitas kedua ini, ketiga kelompok yang sama diberikan tugas untuk merancang satu acara untuk Kebaktian Indonesia. Beberapa peran penting, seperti pemimpin kebaktian, pengisi acara, dan teknisi sound system dijelaskan. Sedangkan untuk bentuk kegiatan, semuanya diserahkan kepada kreativitas tiap kelompok walaupun faktor constraint tetap diberikan, yaitu kegiatannya musti bersifat realistis. Dalam arti... tidak realistis mempertimbangkan acara "pilgrimage ke India" sebagai acara untuk Indonesian Service. Diskusi berlangsung dengan "alot" dan produktif, dan berikut adalah hasil dari tiap kelompok.

Aktivitas kelompok 1:
Ada beberapa masukan di antaranya mengundang bhikkhu/bhikkhuni sebagai speaker, kunjungan temple untuk perayaan Kathina, kunjungan panti, sport / outing, temple tour, gathering untuk makan vegetarian. Setelah disepakati bersama, kita setuju untuk memilih temple tour. Untuk kegiatan ini, paling tidak membutuhkan 6 peran di antaranya:
1. Tour leader
2. Asisten tour leader (2 - 3 orang sesuai dengan jumlah peserta)
3. Transportasi
4. Konsumsi
5. Promosi event / marketing
6. Finance / bendahara
Pembagian peran ke tiap anggota kelompok belum sempat dilakukan.

Aktivitas kelompok 2:
Mengadakan acara nonton bersama Buddhist Film Festival periode 13 - 19 September 2009 di Lido. Ada 2 acara inti, yaitu nonton film dan dinner bersama. Sebagian peran penting disebutkan, di antaranya humas untuk mempromosikan acara ke anggota IBC, koordinator untuk pembelian tiket.Peran2 lain masih dalam konstruksi.

Aktivitas kelompok 3:
Acara : Nonton dan Diskusi mengenai Aliran Maitreya.
Susunan Panitia:
- Pemimpin Parita : Heinz
- Team Creative : Suryana, Steven dan LiShe
- Sound System : Irvan (dan minta bantuan Farlane / Venny)
- Team Diskusi : Helmi dan Yenita

Dari hasil presentasi ketiga kelompok, dinilai bahwa
Aktivitas kelompok 1 (temple tour): Cocok untuk bentuk alternatif Indonesian Service tetapi perlu perencanaan dan persiapan yang lebih panjang.
Aktivitas kelompok 2 (nonton Buddhist Film Festival):Lebih condong ke acara gathering dan juga timeline nya sangat spesifik (13 - 19 September 09). Jadi bisa dilaksanakan sebagai gathering, tetapi bukan sebagai Indonesian Service.
Aktivitas kelompok 3 (nonton & diskusi): Bentuk yang lebih mudah diimplementasikan dalam 1 Indonesian Service, karena secara setting sudah sama dengan Indonesian service selama ini, dengan bentuk variasi acara yang berbeda.

Untuk itu, kelompok 3 menyanggupi untuk mengimplementasikan acara ini di Indonesian Service bulan September 09. Sementara kelompok 2 akan mengimplementasikan gathering bersama ini. Dan untuk kelompok 1, akan meneruskan diskusi untuk perencanaan dan persiapan yang lebih matang. Ketiga acara ini akan di-post di Discussion Forum nya IBC Facebook untuk dibahas bersama. Silahkan di-akses di link berikut:

Aktivitas 1 (temple tour): http://www.facebook.com/profile.php?id=1438397922&ref=mf#/topic.php?uid=10726183674&topic=8986
Aktivitas 2 (BFF): http://www.facebook.com/profile.php?id=1438397922&ref=mf#/topic.php?uid=10726183674&topic=8985
Aktivitas 3 (nonton & diskusi): http://www.facebook.com/profile.php?id=1438397922&ref=mf#/topic.php?uid=10726183674&topic=8984

Implementasi aktivitas ke-2 ini juga memberikan praktik langsung dari pembelajaran di dalam komunitas, yaitu di dalam komunitas IBC-Sing. Oleh karena itu, mari kita sukseskan bersama ketiga acara tersebut :)

Semoga semua makhluk berbahagia.

Mettacittena,
Luis

 

Indonesian Service: 17 May 2009

E-mail Print PDF

Topik yang dibawakan oleh Hendri Tan mengenai "past life" cukup menarik perhatian dari peserta yang hadir dan juga banyak muncul topik diskusi yang menarik :) Hendri memulai presentasinya dengan memaparkan essay singkat mengenai penemuan2 dan pemaparan mengenai keberadaan past life dari berbagai sumber yang ditemukan di internet. Kebanyakan sumbernya berasal dari penelitian di barat, yang berawal dari case study orang2 yang memiliki ingatan mengenai kejadian di kehidupan yang lalunya, sampai penelitian lewat hipnosis di mana seseorang dibawa ke keadaan bawah sadarnya dan ingatan masa lalunya digali.

Dari sumber2 penelitian di barat, fakta mengenai past life juga memunculkan model untuk menjelaskan proses rebirth/reinkarnasi, yang secara sederhana digambarkan sebagai adanya "soul" (jiwa/essence of being) yang keluar dari raga yang sudah mati, dan kemudian soul tersebut memilih kelahiran berikutnya di rahim orang yang memiliki koneksi dekat dengannya. Dari situ juga dimunculkan suatu indikasi bahwa orang2 yang dekat dengan kita di satu kehidupan, juga dekat dengan kita di kehidupan sebelumnya. Di sini, Hendri mengaitkan fenomena ini dengan hukum karma dalam Buddhism.

Satu hal yang perlu diklarifikasi di sini adalah, model tidaklah sama dengan realita :) contohnya, orang jaman dahulu memodelkan bumi sebagai bidang datar, karena itulah ide termuktahir yang mereka punya untuk memodelkan bumi. Tetapi dengan berkembangnya jaman dan ilmu pengetahuan, diketahui bahwa model "bidang datar" itu "terbatas" dan realita yang sebenarnya adalah bumi lebih menyerupai bola. Sama dengan teori mengenai mekanisme kelahiran kembali dengan menggunakan "soul" atau essence of being, hal ini merupakan model saja yang masih ada keterbatasan untuk menggambarkan realita. Dalam Buddhism, dikenal konsep "Anatta" bahwa pada hakekatnya tidak ada inti/essence yang kekal dari segala sesuatu, karena segala sesuatu yang berkondisi pastilah mengalami perubahan (anicca). Jadi, apa yang dianggap sebagai "soul" pun tidak kekal dan terus berubah :)

Dalam presentasinya, Hendri juga menyajikan 2 video yang menggambarkan proses hipnoterapi dari 2 aktor di Taiwan, di mana setelah di-hipnosis mereka dapat me-recall masa lalunya, ingat dengan gambang kejadian yang dialaminya, merasakan emosi yang muncul saat itu. Saat di-hipnosis dan menonton satu segment episode di kehidupan lalu, mirip seperti memilih segment video clip dari database, dan saat mereka menonton segment itu, otomatis informasi2 yang berkaitan seperti tahun berapa, di mana kejadiaannya, dan siapa orang yang dilihat pada saat itu menjadi jelas juga di benak orang yang di-hipnosis. Bahkan salah seorang aktor tersebut dapat mengucapkan bahasa orang Indian yang sangat asing secara fasih, tetapi setelah keluar dari hipnosis tidak bisa lagi.

Peran terapis dalam membimbing pasien yang di-hipnosis pun sangat penting, terutama untuk membantu mereka meredakan emosi2 negatif yang muncul saat mengalami kembali kejadian di masa lalu dan mengembangkan sikap mental positif untuk mengatasinya. Bahkan hipnoterapis sebetulnya lebih bertujuan untuk healing, yaitu mengatasi persoalan yang seseorang alami di mana akar persoalannya ada di masa lalu. Misalnya seseorang yang punya trauma ketinggian yang sangat menganggu, ternyata di kehidupan sebelumnya meninggal karena terjatuh dari ketinggian. Saat akar masalahnya ditemukan, peran terapis sangat penting untuk membantu pasien tersebut mengatasi emosinya.

Hendri juga memaparkan selain ada orang yang bisa melihat masa lalunya, ada juga orang yang bisa melihat masa lalu orang lain. Kalau kita melihat 3 jenis pengetahuan yang dimiliki Sang Buddha saat mencapai penerangan sempurna: 1) pengetahuan tentang masa lalu beliau selama 91 maha kappa (umur semesta), 2) pengetahuan tentang hukum karma, dan 3) pengetahuan tentang pemurnian batin dari segala kekotoran batin. Pengetahuan jenis pertama membuat beliau dapat melihat masa lalunya di banyak kelahiran. Pengetahuan yang kedua membuat beliau dapat melihat masa lalu orang lain, dan jauh lebih dalam lagi, mengetahui seluk beluk kaitan karma orang tersebut yang membuatnya terlahir sebagai apa. Dua pengetahuan ini dapat juga dimiliki oleh orang biasa, walaupun tidak sesempurna Sang Buddha. Dan jalan untuk mengembangkan kedua pengetahuan ini adalah lewat meditasi, walaupun tingkat pengembangan tiap individu dapat berbeda.

Di sesi sharing, Sis Merry ikut share mengenai pengalaman pribadi beliau waktu di-hipnosis dan beliau dapat melihat satu segment di masa lalunya sebagai seorang putri di suatu kerajaan. Sangat jelasnya memori yang beliau ingat, juga mengkonfirmasi apa yang dipaparkan oleh Hendri dari kasus2 yang ada. Satu point diskusi yang penting untuk dicermati adalah tidak semua memori masa lalu itu benar. Ada kalanya apa yang kita lihat itu hanyalah ilusi dan imajinasi. Seperti halnya dalam hipnosis, ada kalanya seseorang dapat merasakan imaginasinya sebagai realita, padahal bukan. Dalam hal ini, Ajahn Brahm pernah menegaskan bahwa diperlukan batin yang tenang, stabil, dan jernih untuk dapat mengetahui apakah yang kita lihat hanya ilusi atau realita.

Salah satu point diskusi yang lain adalah "apakah kelahiran bisa mundur?" dalam arti, seseorang dari masa depan terlahir kembali di masa lalu, sebagaimana banyak digambarkan dalam cerita fiksi ilmiah mengenai mesin waktu. Walaupun secara ilmu pengetahuan kita tidak bisa menjawab secara pasti, dan ada pikiran bahwa tidak tertutup kemungkinan bahwa itu bisa terjadi, dalam Buddhisme sebetulnya cukup jelas bahwa kelahiran mundur tidaklah mungkin. Kamma-vipaka (perbuatan dan konsekuensinya) mengikuti alur waktu yang maju "perbuatan di masa lalu menjadi sebab terjadinya kondisi di saat ini, dan perbuatan di saat ini menjadi sebab untuk kondisi di masa depan", oleh karena itu kelahiran pun (yang disebabkan oleh kamma-bhava) akan mengikuti alur maju.

Satu hal lagi yang dipaparkan oleh Hendri adalah kasus anomali di mana dalam essay disebutkan "1 soul dapat terlahir menjadi 2 makhluk" walaupun kasus ini sangat jarang sekali, yang disebut dengan twin soul. Ilmu pengetahuan yang masih cukup baru dalam mempelajari hal ini belum sepenuhnya bisa menjelaskan fenomena ini. Tetapi dalam Buddhism, sudah jelas bahwa hal ini tidak mungkin terjadi. Seperti diuraikan dalam 12 mata rantai yang saling bergantungan, suatu kesadaran (vinnana) akan menjelma menjadi kelahiran satu makhluk. Tidaklah mungkin 1 kesadaran dapat menjelma menjadi 2 makhluk. Oleh karena itu, fenomena anomali ini bisa dianggap sebagai masalah yang belum terpecahkan penjelasannya dalam ilmu pengetahuan, sebagai proses di mana nantinya akan ada jawaban yang konsisten dengan apa yang diuraikan dalam Buddhisme. sama seperti keterbatasan ilmu pengetahuan untuk mengetahui adanya tatasurya lain 100 tahun yang lalu, tetapi seiring majunya ilmu pengetahuan akhirnya sampai pada kesimpulan yang sama dengan Buddhisme, yaitu banyaknya tata surya.

Sebelum diskusi ditutup, Joni memaparkan satu opini yang bijak dan perlu kita renungkan bersama. Bahwa memang benar dengan adanya kemajuan ilmu psikologi seperti hipnoterapi, yang membuktian keberadaan masa lalu, menjadi bukti yang memperkuat keyakinan kita terhadap Buddha Dhamma. Tetapi, sisi lain dari euphoria terhadap kemajuan ini juga membuat dampak yang kurang positif misalnya komersialisasi dari terapi jenis ini dan penggunaannya untuk hal2 yang belum tentu bermanfaat. Sebagaimana yang Sang Buddha ajarkan mengenai bagaimana kita harus "hidup di masa kini", kita harus bijaksana dalam menyikapi permasalahan dalam hidup. Tidak semua masalah perlu dicari akarnya di masa lalu, dan tidak juga penting untuk menjadikan kemampuan mengenai masa lalu kita sebagai tujuan utama kita dalam praktik spiritual. Semua itu akan dicapai bila saatnya tiba, dan kebijaksanaan untuk menyikapinya menjadi hal yang lebih esensial dalam menjalankan hidup.

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 3