Summary Indonesian Service 18 July 2010
By: Usman
Edited and added by: Luis
Salah satu kekayaan Buddhisme adalah berkembangnya simbolisme untuk merepresentasikan ajaran2 Sang Buddha di berbagai tradisi Buddhisme di dunia. Tibet, dengan kekayaan budaya dan seni nya, merupakan salah satu pusat perkembangan simbolisme ini dalam bentuk lukisan2 yang indah (yang disebut tangka) dan juga tata cara ritual yang artistik dan penuh makna yang berakar dalam kebudayaan masyarakat Tibet. Tradisi Buddhisme yang berkembang di Tibet, merupakan pengembangan dari tradisi Buddhisme Mahayana yang terlebih dahulu berkembang di China setelah masuknya Buddhisme dari India melalui jalur perdagangan. Dalam kesempatan ini, saya menjelaskan makna dari beberapa tangka dari Tibet yang merepresentasikan makhluk2 suci yang dikenal dalam Buddhisme Mahayana dan Vajrayana, beserta paralel nya dengan lukisan2 di tradisi Mahayana di China, dan juga simbol2 lainnya yang digunakan oleh masyarakat Buddhis setempat.
Pertama2, saya mempresentasikan lukisan dari 3 jenis Buddha yang paling dikenal dalam tradisi Mahayana/Vajrayana, yaitu Buddha Sakyamuni, Buddha Amitabha, dan Buddha Bhaisajyaguru. Buddha Sakyamuni adalah Guru Utama seluruh umat Buddha di dunia yang lahir di India 2600 tahun yang lalu, mencapai penerangan sempurna dan memutar roda Dharma yang masih terus berputar sampai sekarang. Buddha Amitabha adalah samboghakaya (tubuh kosmis) dari Buddha Sakyamuni yang melambangkan kualitas Penerangan Sempurna dari semua Buddha dan digambarkan berada dalam Tanah Suci Barat sebagai alam ideal untuk mempelajari Dharma dan mencapai pencerahan. Buddha Bhaisajyaguru adalah samboghakaya (tubuh kosmis) dari Buddha Sakyamuni yang melambangkan kualitas “Kesembuhan/Pengobatan” dari Dharma, yaitu kesembuhan dari segala penderitaan (Dukkha). Berikut adalah keterangan dan mantra yang biasa dilafalkan untuk masing2 Buddha tersebut.
1. Buddha Sakyamuni ( Om Muni Muni Maha Muni Shakyamuni Soha)
2. Buddha Amitabha (Om Amideva Hrih). Dalam tangka ini, Buddha Amitabha berwarna merah. Dalam lukisan Tibet, warna banyak digunakandalam menyampaikan makna dan arti dari lukisan tersebut
3. Buddha Bhaisajyaguru (oṃ bhaiṣajye bhaiṣajye mahābhaiṣajye bhaiṣajyarāje samudgate svāhā. ) dalam lukisan ini, Buddha Bhaisajyaguru berwarna biru tua, dan tangan kiri memenggang obat-obatan.
Selain ketiga Buddha ini, saya pun mempresentasikan tangka dari Bodhisattva Maitreya, yang sekarang berada di alam Tusita, dan akan menjadi Buddha berikutnya setelah Dharma yang diajarkan oleh Buddha Sakyamuni tidak lagi dikenal di dunia.
4. Bodhisattva Maitreya (oṃ maitri mahāmaitri maitriye svāhā ) dengan posisi duduk, dan kedua kaki menginjak bunga teratai


Setelah menjelaskan beberapa tangka di atas, saya menjelaskan makna ritual Buddhisme Vajrayana, salah satunya adalah persembahan air yang terdiri atas 7 cawan dan 1 “suara”. Isi dari ketujuh cawan tersebut adalah:
- Air minum
- Air basuh (satu, dua – Melambangkan pembelajaran (studi) Dharma kita dan semua makhluk )
- Bunga (Melambangkan kualitas bajik seperti cinta kasih, welas asih, iba melihat penderitaan orang lain, suka berdana, dsb)
- Dupa (Melambangkan moralitas/sila, seperti: tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbohong, dll)
- Pelita (Melambangkan kebijaksanaan – dengan hidupnya lampu, kita dapat melihat sesuatu dengan jelas)
- Wewangian ( Melambangkan keyakinan kita terhadap Guru, Buddha, Dharma & Sangha)
- Makanan/Buah-buahan (Melambangkan konsentrasi di mana pikiran kita terfokus ketika belajar Dharma)
Untuk “cawan” (abstrak) kedelapan yang berisikan suara, melambangkan keharmonisan dalam segala aspek praktik, di mana semuanya menjadi lancar, hubungan kita dengan Guru dan dengan praktisi lainnya juga harmonis, dll.
Setelah menjelaskan ke-khas-an dari tradisi Vajrayana Tibet, tiba saatnya saya mengeksplorasi kaitan dari aspek2 tersebut yang juga terdapat dalam candi2 di Indonesia. Pada jaman kedatuan Sriwijaya dan Keprabuan Majapahit, agama Buddha Vajrayana berkembang pesat di bumi nusantara dan jejak2nya masih dapat kita lihat di candi2 yang masih ada di tanah Jawa. Berikut adalah penjelasan dari relief2 yang terdapat dalam candi2 tersebut.
Candi Mendut (Jawa Tengah arah ke Semarang)
Candi Mendut merupakan bangunan candi yang menggambarkan pemutaran roda Dharma (Dharmacakra) oleh Sang Buddha di taman rusa Isipatana, setelah beliau mencapai penerangan sempurna. Dalam sutra Mahayana, peristiwa ini diungkapkan dalam Mahavaipulya Avatamsaka Sutra. Dalam candi ini terdapat relief Bodhisattva Avalokitesvara bertangan empat. Sebagai pembanding, saya memberikan tangka Bodhisattva Avalokistesvara bertangan empat dalam Tangka Tibet, Avalokitesvara berkepala 11 dalam Tangka Tibet, dan Dewi Kuan Yin dalam lukisan China.
Di dalam candi Mendut juga terdapat tiga arca bodhisattva utama, yaitu bodhisattva Maitreya, bodhisatva avalokitesvara, dan bodhisattva Vajrapani.
Candi Plaosan, (Jawa tengah arah ke Solo)
Di dalam candi utama terdapat arca 5 Dhyani Buddha (Buddha kosmis) dan 8 Bodhisattva utama. Kelima Dhyani Buddha adalah Buddha Aksobhya, Buddha Ratnasambhava, Buddha Amitabha, Buddha Amoghasiddhi, dan Buddha Vairocana. Kedelapan Bodhisattva utama adalah Arya Maitreya, Arya Samantabhadra, Arya Avalokitesvara, Arya Akashagarbha, Arya Ksitigarbha, Arya Sarvanivaranaviskambini, Arya Manjushri, dan Arya Vajrapani. Istilah Arya mengacu kepada makhluk yang mulia, seperti halnya dalam Arya Sangha yang mengacu pada makhluk suci sotapana, sakadagami, anagami, dan arahat. Dalam tradisi Mahayana/Vajrayana, para bodhisattva yang beraspirasi untuk menjadi Buddha juga disebut Arya.
Candi Kalasan, (Jawa Tengah , arah ke Solo)
Di dalam candi terdapat sebuah arca Dewi Tara yang sangat besar (dilihat dari besarnya tahta Dewi Tara yang tertinggal), namun kini arca tersebut tidak ada lagi. Dewi Tara diceritakan sebagai manifestasi dari air mata Bodhisattva Avalokitesvara yang muncul setelah beliau melihat penderitaan makhluk2 yang tak terhingga banyaknya di dalam Samsara. Dewi Tara melambangkan aktivitas Bodhisattva Avalokitesvara dalam usahanya menyelamatkan semua makhluk dari samsara, dan disebut sebagai Dewi pembebasan samsara, dengan mantra Om Tare Tuttare Ture Svaha. Saya memaparkan beberapa lukisan Dewi Tara (Tara hijau, Tara putih, dan 21 Tara).
Candi Sewu, (Jawa Tengah, dekat candi Prambanan)
Candi ini merupakan mandala (ladang persembahan kebajikan) yang disebut Dharmadhatu Vagishvari Manjushri. Dahulu di dalam candi utama terdapat sebuah arca Arya Manjushri yang sangat besar, yang merupakan Bodhisatva pelambang kebijaksanaan (Oṃ A Ra Pa Ca Na Dhīḥ ). Saya mempresentasikan 2 versi lukisan Bodhisattva Manjushri, yang pertama dalam tangka Tibet dan yang kedua versi Chinese yang memperlihatkan beliau menaiki seekor Singa. Sebagai pembanding, saya juga mempresentasikan 2 versi lukisan Bodhisatva Samantabhadra, yang dalam versi lukisan Chinese nya, beliau digambarkan menaiki seekor gajah. Dalam versi Tibetnya, beliau digambarkan bersatu dengan seorang wanita yang melambangkan seorang bodhisattva tidak lagi memiliki jenis kelamin (bukan laki2 maupun perempuan). Sama halnya dengan bodhisattva Avalokitesvara versi Chinese yang seringkali digambarkan berwujud perempuan tetapi memiliki dada yang bidang seperti laki2, untuk melambangkan tidak adanya jenis kelamin dalam bodhisattva. Bodhisattva Mahastamaprapta, bodhisattva Avalokitesvara, dan Buddha Amitabha sering digambarkan sebagai Triratna dalam aliran Tanah Suci Amitabha.
Candi Borobudur, (Jawa Tengah arah ke Semarang, dekat Candi Mendut)
Candi Borobudur merupakan mandala (ladang persembahan kebajikan) terbesar di nusantara, dan setiap tingkatannya memiliki arti tertentu. Bagi umat Buddhis, khususnya tradisi Tibetan, tidaklah asing dengan istilah "Persembahan Mandala". Mandala itu sendiri merupakan miniatur dari alam semesta. Kata mandala itu sendiri dalam bahasa Tibet yakni kyilkor. Suku kata pertama kyil diterjemahkan sebagai "intisari" dan suku kata kedua kor adalah "untuk memperoleh" sehingga digabungkan menjadi "untuk memperoleh intisari", suatu pengertian yang memiliki makna sangat mendalam.
Dalam aliran Tantrayana, tingkatan2 ini digambarkan sebagai relief2 Gandavyuha dan Bhadracari. Melalui penempatan arca-arca Pancatathagata – sebagai simbol praktik di perkirakan bahwa Candi Borobudur lebih menitikberatkan pada ajaran Tantrayana atau Mahayana. Pembagian Candi Borobudur menjadi Kama-dhatu, Rupa-dhatu, Arupa-dhatu tidak relevan karena pembagian ini hanya menggambarkan penggolongan alam kehidupan menurut kosmologi Buddhis yang tidak bisa menjelaskan keberadaan simbol-simbol Tantrayana dan Mandala. Karena itu teori interpretasi yang paling di rekomendasi adalah Teori de Casparis yang membagi Borobudur ke dalam 10 tingkatan Bodhisattva. Akhir kata, bisa di simpulkan bahwa Borobudur adalah Perwujudan realisasi pencerahan seorang manusia yang berusaha menyempurnakan kebajikan dan kebijaksanaan yang dirangkum ke dalam relief-relief dan arca-arca menjadi satu candi. Tingkat terendah dari mandala melambangkan aspirasi untuk memperoleh kelahiran yang bahagia di kehidupan mendatang. Tingkat selanjutnya melambangkan aspirasi untuk bebas dari samsara. Dan tingkat teratas melambangkan merupakan tujuan teragung, yaitu untuk mencapai Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna.
Praktik persembahan mandala juga dapat melibatkan enam paramita sebagai berikut:
1. Dana
Membangkitkan keinginan untuk memberi, pikiran untuk mempersembahkan mandala dan benar-benar mempersembahkan bahan-bahan persembahan.
2. Sila
Mempersembahkan mandala tidak hanya untuk keuntungan diri sendiri, tetapi untuk kebaikan semua makhluk. Bekerja hanya untuk kepentingan diri sendiri dapat menghambat praktik disiplin moral.
3. Kesabaran
Sabar ketika mengatasi kesulitan yang timbul dalam praktik ini, seperti melakukan visualisasi dan sebagainya, serta mengatasi kemalasan untuk melakukan praktik ini.
4. Semangat
Melakukan praktik ini dengan kegembiraan dan upaya yang bersemangat.
5. Konsentrasi
Berkonsentrasi dengan baik ketika melakukan praktik ini dan tidak membiarkan pikiran melayang.
6. Kebijaksanaan
Mengetahui dengan pasti bagaimana membuat persembahan dan mengerti bahwa meskipun mandala itu eksis secara konvensional, namun tidak ada eksistensi yang berdiri sendiri
Setelah menjelaskan beberapa tangka Buddha dan Bodisattva di atas, saya melanjutkan dengan mempresentasikan beberapa Tangka Guru besar Vajrayana dari silsilah Kadampa. Silsilah ini cukup menarik karena mencakup seorang Guru Besar dari Indonesia pada jaman Sriwijaya, yaitu Swarnadwipa Dharmakirti, yang sekaligus berperan dalam perkembangan agama Buddha di Tibet.
1. Padmasambhava / Guru Rinphoce
Padmasambhava Yang Maha Tahu
Yang pertama adalah Guru Padmasambhava, yang sangat terkenal dalam tradisi Vajrayana, karena kemampuannya dalam memprediksikan kapan Buddhisme Vajrayana berkembang. Siswa Vajrayana banyak yang mengetahui bahwa Padmasambhava pernah ditanyai oleh siswa Nya : “Mohon Guru berwelas asih mengajarkan, kapankah masa penghujung Dharma akan datang ?”
Dengan penuh kasih , Padmasambhava menjawab : “Saat burung besi terbang di angkasa (pesawat terbang), saat kuda berjalan (kereta api atau mobil), saat itulah kedatangan masa penghujung Dharma. Pada saat itu Buddhisme Tantrayana akan berkembang dan menyebar ke seluruh dunia. Di saat penghujung Dharma, di seluruh dunia akan muncul fenomena ini : seorang raja tidak seperti layaknya raja, para pejabat tidak seperti layaknya pejabat, ayah tidak seperti layaknya ayah, anak juga tidak seperti layaknya anak, hubungan ayah dan anak seperti hubungan teman bermain. Wanita tidak menjaga kesuciannya, laki-laki tidak bisa mengendalikan nafsu birahi, akan muncul berbagai fenomena jatuhnya Dharma.”
Padmasambhava mengatakan : “Sungguh menakjubkan ! kereta pada masa itu tidak perlu ditarik dengan kuda, bisa dengan otomatis bergerak. Menakjubkan ! kaum muda pada masa itu, kakinya menginjak tanduk kerbau, bahkan ditambah roda , bisa menggelinding kesana kemari. Sungguh menabjubkan , orang pada masa itu tidak perlu keluar rumah, tiap hari hanya perlu duduk di hadapan cermin akan mampu mengetahui banyak hal di dunia, bahkan bisa saling mengirim kabar ! Sungguh menakjubkan.” Sampai disini mungkin Anda sekalian tahu, mobil, skateboard ,layar monitor, internet, e-mail dan chatting,semua adalah hal-hal yang sangat akrab bagi manusia masa kini.
Lebih lanjut, Padmasambhava juga mengatakan : “Pada saat itu (masa penghujung Dharma) banyak para bhiksu-bhiksuni yang mengejar nama dan keuntungan pribadi, kemana-mana menipu para umat, mengambil harta kekayaan orang lian dengan tidak semestinya, menggunakan harta pribadi orang lain namun tidak untuk sesuatu yang berhubungan dengan Dharma, tidak melafal sutra dan ajaran , malah termabuk dalam hiburan dunia, melanggar sila tanpa penyesalan.”
2. Swarnadwipa Dharmakirti
Terjemahan Tibet dari kata pa secara harfiah menunjuk pada orang, Jadi Ser-gling-pa berarti orang yang berasal dari Serling/Swarnadwipa. Nama asli beliau adalah Dharmakirti. Dikatakan dalam Riwayat Guru-Guru Lamrim, bahwa Dharmakirti pergi ke Jambudwipa (India) belajar di bawah Sri Ratna dan menjadi biksu di bawah guru ini. Dikatakan juga Dharmakirti lahir dari keluarga kerajaan, dia adalah anak raja dari Sriwijaya.
Banyak catatan yang bisa diketemukan mencatat bahwa seorang Guru besar dari India bernama Atisa berlayar selama empat belas bulan (ada sumber yang mengatakan tiga belas bulan) dari Benggal (India) menuju Swarnadwipa (Sumatera) pada usia tiga puluh satu tahun dan tinggal di Swarnadwipa selama tiga belas tahun lamanya untuk belajar dari Dharmakirti. Pada waktu itu di Dharmakirti adalah seorang guru agama Buddha yang sangat terkenal yang bertempat tinggal di ibukota Sriwijaya. Perjalanan pelayaran ini dimulai pada tahun 1012 Masehi, ada juga yang mengatakan pada tahun 1013 Masehi.
Tidak ada yang tahu sampai kapan Guru Besar Dharmakirti hidup. Catatan dari Tibet menerangkan beliau hidup hingga usia 150 tahun dan bertempat tinggal di Swarnadwipa ketika Atisa mencapai kedudukan tertinggi sebagai pendeta besar di biara Vikramasila di India. (Cerita lebih lengkap silakan kunjungi www.kadamchoeling.or.id )
3. Guru Atisa
Atisa (982-1054 M) dilahirkan pada keluarga kerajaan di kota Zahor dengan nama Chandragarbha, merupakan anak kedua dari raja yang berkuasa di India bagian timur yang sekarang adalah Bengal. Ayah beliau adalah Raja Kalyanasri dan Ibu beliau adalah Sri Prabhawati. Saudara tua Atisa adalah Padmagarbha dan yang terkecil adalah Srigarbha.
Atas petunjuk Tara, beliau berangkat ke Swarnadwipa untuk memperoleh pelajaran tentang bodhicitta (batin pencerahan) pada Guru Dharmakirti. Dari Gurunya Rahulagupta, Atisa menerima semua pelajaran tentang Tantra dan mengintruksikan untuk menjadikan Maha Karunika sebagai Istadewata.
Setelah kembali dari Sumatera ke India, Raja India Mahapala meminta beliau menjadi kepala biara Vikramasila dan menduduki posisi Pendeta Tinggi. Setelah beberapa tahun kemudian, Atisa diundang ke Tibet untuk menghidupkan kembali Buddhis di tanah bersalju setelah terjadi kemerosotan oleh Raja Langdharma dari tahun 838-842 M. Beliau berangkat dari biara Vikramasila, yang pada waktu itu dikepalai oleh Ratnakara.
Atisa mengatakan pada risalah di catatan Tibet, "Saya tidak membuat perbedaan di antara semua guru satu dengan guru lainnya akan tetapi karena kebaikan hati dari Mahaguruku dari Pulau Emas saya memperoleh sejengkal kebaikan hati (bodhicitta) kedamaian batin, dan hati yang mengabdi". Selama 12 tahun, Atisa belajar di Sumatera yang akhirnya membawa beliau menjadi seorang guru besar filosofis Mahayana dan Logika yang tersohor. Tak diragukan lagi bahwa Dharmakirtilah yang membuat Atisa menjadi seorang pandita besar. (Cerita lebih lengkap silakan kunjungi www.kadamchoeling.or.id )
Setelah menjelaskan tangka Guru Besar, di lanjutin dengan beberapa tangka yang berkaitan dengan para makhluk suci dan dewa neraka.
1. Bhava-Cakra
12 Mata Rantai Pratityasamudpada

Hyang Buddha mengajarkan bahwa ada 12 mata rantai yang saling terkait, yang membelenggu kita dalam samsara. Kedua belas mata rantai tersebut dapat dilihat di sekeliling bhava-cakra. Mata rantai yang pertama akan mengakibatkan yang kedua, yang kedua mengakibatkan yang ketiga, demikian seterusnya. Roda kehidupan ini dicengkeram oleh Yama, dewa kematian. Hal ini menunjukkan bahwa selama kita berada dalam samsara, kita tidak memiliki pilihan selain mati dan terlahir kembali. Keterangan mengenai Yama dapat dibaca di Dhammapada 235:
(235) Sekarang ini engkau bagaikan daun mengering layu. Para utusan raja kematian (Yama) telah menantimu. Engkau telah berdiri di ambang pintu keberangkatan, namun tidak kaumiliki bekal untuk perjalanan nanti.


Keduabelas mata rantai ini adalah:
1 .ketidak tahuan (avija, wuming)
2. bentuk-bentuk karma (sankhara, xing)
3. kesadaran (vinnana, shi)
4. modalitas (namarupa, ming she)
5. enam landasan indra (salayatana, liu ru)
6. kontak (phasaa, chu)
7. perasaan (vedana, shou)
8. keinginan (tanha, ai)
9. keterikatan (upadana, qu)
10. menjadi (bhava, you)
11. kelahiran (jati, shen)
12. kematian (marana, si)
2. Mahakala (dikatakan sebagai manifestasi dari bodhisattva Avalokitesvara)
3. Vajrapani
4. Jambala Kuning, Jambala Merah /Ganesha (yang menolong Sakyamuni Buddha waktu akan dicelakai Devadatta adalah Trio Dzambala (Dzambala Merah, Dzambala Kuning, Dzmbala Hijau). Mereka berubah menjadi akar pohon, yang hanya menyebabkan luka kecil pada Kaki Sakyamuni Buddha. Lebih lengkapnyabisa lihat di Topik mengenai Dzambala Kuning (di www.wihara.com)
5. Bodhisatva Ksitigarbha
Adalah bodhisattva yang memiliki ikrar mulia untuk tidak menjadi seorang Buddha sampai neraka kosong.
Selain tangka2 di atas, saya juga melanjutkan penjelasan beberapa simbol dalam agama Buddha seperti
1. Delapan lambang keberuntungan
a. payung sebagai simbol kekuasaan atau tingkat kemegahan mudah diketahui. Juga, kenyataan bahwa payung melindungi yang membawa dari panas matahari dipindahkan dalam lingkungan religius sebagai pelindung melawan panas dari perbuatan-perbuatan jahat (nyon-mongs, skt. Klesa):
b. Dalam Buddhisme, ikan mas melambangkan kebahagiaan, sebab ikan-ikan tersebut memiliki kebebasan sempurna di dalam air. Ikan-ikan tersebut melambangkan kesuburan dan kekayaan (berlimpah-ruah)
c. Bentuk khusus jambangan harta benda (jika) dilihat di antara Delapan Simbol merupakan sebuah tanda pemenuhan keinginan spiritual dan materi, dan juga merupakan sifat dewa-dewa tertentu yang berhubungan dengan kekayaan
d. Lotus adalah salah satu dari simbol yang dikenal. Lotus dianggap simbol dari kesucian, walaupun lotus memiliki akar di dalam lumpur dalam sebuah kolam dan danau, dia tetap memunculkan kecantikan dari bunganya tanpa noda keatas permukaan air.
e. Diantara ke-8 simbol, Siput atau Keong berdiri untuk kemasyuran dari ajaran Sang Buddha, dimana tersebar ke segala penjuru seperti suara terompet siput tersebut. Jadi siput/keong dalam masyarakat Tibet memiliki arti religius yang murni.
f. Simpul tak berujung adalah suatu hiasan grafis TERTUTUP, yang terdiri atas tali-tali bersudut kanan yang saling menjalin,karena simpul ini tidak berawal dan berakhir, simpul ini juga menandakan pengetahuan Buddha yang tanpa batas.
g. Panji kemenangan menandakan terutama pada kemenangan ajaran Buddhisme, kemenangan pengetahuan kebijaksanaan atas ketidak-tahuan atau kemenangan atas semua rintangan, pencapaian kebahagiaan.
h. Roda Dharma, juga mempunyai arti religius murni sebagai simbol ajaran Buddha. Ini mengingatkan kita bahwa Dharma adalah mencakup semua dan lengkap didalamnya. Tidak ada awal dan akhir, dan sekaligus dalam gerakan (berputar) dan diam. Jadi, umat Buddha melihatnya sebagai pernyataan kelengkapan dan kesempurnaan dari ajaran, dan keinginan agar ajarannya tersebar lebih luas.
2. Ornamen Roda Dharma (versi Tibetan) senantiasa digunakan dalam puja bakti dengan memutarkan roda tersebut dengan tangan. Makna dari ritual ini adalah supaya Dharma ajaran Sang Buddha terus berputar dan berkembang dalam penyebarannya.
3. Tasbih, tasbih dalam aliran Mahayana sering di pakai untuk menghitung pelafalan mantra atau paritta. Jumlah tasbih selalu 108, ini ada yg mengatakan karena jumlah biji pohon bodhi selalu berjumlah 108, dan ada juga yang mengatakan melambangkan 9 planet di tata surya dan 12 shio, 9x12=108
4. Rusa dan roda Dharma, ini melambangkan tempat belajar Dharma, karena Sang Buddha pertama kali membabarkan Dharma di Taman Rusa Isipatana. Oleh karena itu, simbol rusa digunakan untuk melambangkan tempat belajar Dharma.
Referensi:
http://www.kadamchoeling.or.id
http://dhammacitta.org
http://www.siddhi-sby.com
http://www.wihara.com